Who's Following Me?

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Oktober 2019

KECEWA

Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia. 
- Ali Bin Abi Thalib -

Sejak tadi, Kirana memandangi sebaris kalimat di dalam buku yang sedang dibacanya itu.  Rendra yang berdiri di belakangnya tahu, bahwa sebenarnya pikiran Kirana tengah melanglang buana. Ia ingin menghampiri dan menyapa, namun tak kuasa. Seolah masih mengumpulkan keberanian di dalam dirinya.

"Kirana...", panggil Rendra akhirnya. Setelah memberanikan diri untuk berjalan ke hadapan Kirana dalam keheningan yang seolah menenggelamkan mereka berdua. Kirana bergeming. Ia membalik halaman buku, seakan masih terfokus pada bacaannya. 

"Rana, maafkan aku..."

Demi mendengar panggilan sayang itu, Kirana luluh. Ia menutup buku kemudian meletakannya di pangkuan, "Untuk?" Tanyanya masam.

"Terlambat datang. Lagi." Rendra merendahkan tubuhnya seraya meraih tangan Kirana. "Aku janji ini yang terakhir."

"Terakhir kali, juga begitu ucapanmu." Ujar Kirana. Datar namun sarat kekecewaan. Bukan baru sekali, Rendra membuatnya kecewa. 

"Aku yakin hal ini akan menghilangkan rasa kecewamu itu." Rendra mengangsurkan sebuah boks kecil berwarna merah. Ia membukanya, sehingga Kirana pun dapat melihat apa yang ada di sana. "Will you marry me?"

Kirana kembali tersenyum, "Nikahi saja perempuan hamil itu, Ren." pungkas Kirana.

Tergambar jelas di benak Kirana kejadian tadi siang, saat seorang perempuan masuk ke ruang kerjanya. Tanpa dipersilakan, ia menempati kursi di seberang meja Kirana. Dari wajahnya, perempuan terlihat begitu letih. Seolah sedang menanggung beban yang sangat berat.

"Mbak, Mas Rendra mungkin pernah menyebutkan namaku. Arimbi." Perempuan itu mengangsurkan tangannya. Kirana menyambutnya dengan canggung. "Oh... jadi ini yang pernah menjadi akar dari perdebatan di antara kami?" Pikirnya sebal.

"Kirana. Lalu?" Kirana balik bertanya dengan angkuh.

"Mbak Kirana, ini..." Arimbi menyentuh perutnya yang agak membuncit. "Anak Mas Rendra."

Kamis, 10 Oktober 2019

GARIS


Sejak awal, kehidupan pernikahan Namira dan Bagas baik - baik saja. Selayaknya pasangan muda, sesekali mereka memang bertengkar. Namun, akan dengan mudah untuk berbaikan kembali. 

Hingga akhir - akhir ini, pertanyaan yang tak mengenakkan itu mulai terdengar. Awalnya hanya dari kedua orang tua, tapi lambat laun keluarga besar mereka pun juga bertanya.

"Sudah tiga tahun menikah, masih belum hamil juga?"
"Kalian nggak mau kasih kami cucu?"
"Mira coba berhenti kerja sana... supaya bisa fokus program hamil!"

Namira dan Bagas bukannya tidak mencoba segala cara. Mereka pun sudah kesana kemari menemui beragam ginekolog. Semua berkata sama, kondisi keduanya sehat namun memang belum diberikan kesempatan saja.

Tak hanya itu, berbagai macam hal yang masih dianggap mitos pun mereka lakukan. Banyak - banyak mengkonsumsi tauge. Tidak memakan daging merah. Semua sudah mereka lakukan. Bahkan secara rutin, Namira memastikan bahwa saat mereka berhubungan, ia sedang dalam masa subur.

"Mas, kemarin Mama bilang kalau memang aku tidak bisa, Mama mau carikan perempuan lain untukmu", ujar Namira suatu malam.

"Bicara apa sih kamu, Mir. Tidaklah... kamu tahu aku bukan lelaki seperti itu"

"Aku takut mengecewakanmu, Mas", Namira mulai terisak.

Bagas meraih Namira ke dalam pelukannya, "Ssstt, sudah... sudah... kamu ingat kan janji kita tiga tahun yang lalu?"

"Tapi, Mas...", dengan ragu pikiran Namira melayang ke hari pernikahan mereka, saat sebuah janji setia mereka ucapkan di hadapan keluarga dan juga Tuhan.

"Kita coba lagi ya, Mir", bisik Bagas seraya membelai rambut Namira. Suaranya pelan namun sarat makna. Menggoda bibir Namira untuk langsung menyerbu tubuh Bagas.

Malam itu, ntah berapa kali mereka mempersatukan tubuh. Tekad mereka sama, menghadirkan satu lagi manusia di bumi ini. Hingga kemudian pada suatu pagi, Namira terbangun dengan kondisi lemas. Akibat semalaman memuntahkan isi perutnya. 

Tanpa sadar, ia meraih sebuah benda yang selama ini dibencinya. Dengan seksama Namira menggunakan benda tersebut, kemudian ia menunggu. Semenit. Dua menit. Namun terasa seperti dua abad.

Sebuah garis mulai terlihat di atas benda menyebalkan itu. "Cepatlaaah...", rutuk Namira tidak sabar. Sepersekian detik, ia terlonjak bahagia seraya memanggil Bagas.

"Mas... dua garis!!", seru Namira begitu melihat kehadiran Bagas di sisinya.

"Maksudnya?", tanya Bagas. Masih belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

"Ini... dua garis, Mas", Namira mengangsurkan benda yang dulu paling dibencinya itu.

"Kamu... hamil?" 

#Writober
#RBMIpJakarta
#Ibuprofesionaljakarta

Rabu, 09 Oktober 2019

LUPA


"Sial! Hari ini aku kena hukuman lagi", rutuk Nima kesal. Entah sudah berapa kali ia mendapat hukuman di minggu ini.

"Kan ibu sudah bilang, persiapkan semuanya di malam hari. Supaya tidak ada yang lupa dibawa"

"Ah ibu bukannya membela malah ikut memarahi", pikir Nima semakin kesal saja.

"Dan jangan lupa, kamu buat catatan barang apa saja yang harus dibawa", lanjut ibu.

"Ya, Bu...", kata Nima akhirnya. Seakan malas menanggapi ibunya yang terus-menerus menasehati.

"Ah.. anak ini, kalau diberitahu pasti seperti itu. Lihat saja, esok juga kena hukuman lagi", batin Ibu. Agak jengkel dengan sikap Nima.

Keesokan harinya, benar saja Nima terlambat bangun tidur. Dengan terburu - buru Nima pun bersiap kemudian langsung berangkat ke sekolah. Sesampainya di sana, bel tanda masuk ternyata telah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Nima pun bergegas masuk ke dalam kelas.

"Maaf, Bu... Nima telat." 

"Ya, tidak apa-apa. Lain kali jangan diulangi. Langsung kumpulkan PR Matematikamu saja, Nima."

Nima pun mencari buku PR Matematika di dalam tasnya. Namun ternyata yang dibawanya malah buku PR Bahasa Indonesia. "Aduh, bagaimana ini?", pikir Nima bingung.

"Bu, maaf... Nima sudah kerjakan tapi Nima lupa bawa."

"Kamu ini... sudah telat, tidak bawa PR pula. Sudah sana duduk! Tapi selepas pelajaran, kamu harus menghadap ibu", perintah Bu Guru.

Akhirnya, Nima pun berjanji akan membereskan barang - barang di hari sebelumnya. Agar tidak ada yang terlupa dan mendapatkan hukuman lagi.

#Writober
#RBMIpJakarta
#Ibuprofesionaljakarta

Senin, 07 Oktober 2019

BULAN


"Bu, aku merasa semakin tidak bahagia dengan suamiku."

"Lha, ada apakah? Kok tiba - tiba bicara seperti itu."

"Aku seakan hanya menjadi pelengkap kehidupannya saja. Kami memang hidup di jagat raya yang sama, tapi aku seakan seperti bulan, Bu... sementara ia seperti bumi berputar mengelilingi matahari, dan aku hanya memutari sekelilingnya. Bahkan aku tidak punya cahayaku sendiri, sehingga hanya dapat menjadi bidang untuk memantulkan cahayanya."

"Tapi akhirnya mereka dapat hidup berdampingan selama jutaan tahun. Bahkan, hingga hari ini."

"Ya, itu kan... ah sudahlah, Bu. Keputusanku sudah bulat, aku ingin minta cerai saja."

"Bulan dan bumi berkompromi, Nak... mungkin memang dibutuhkan waktu jutaan tahun, namun pada akhirnya mereka dapat beriringan untuk menebarkan manfaat bagi seluruh umat manusia."

#Writober
#RBMIpJakarta
#Ibuprofesionaljakarta

Minggu, 06 Oktober 2019

KENAPA?


"Kenapa, Nduk?"

Hanya beberapa jam sebelum saat bahagianya, Laksmi masih saja menerima pertanyaan tersebut dari ibunya sendiri. Rasanya sudah beribu jawaban dituturkan pada mereka yang terus bertanya. "Salahkah aku memilihnya?", pikir Laksmi gamang.

Kisah mereka berdua memang tidak seperti kebanyakan pasangan muda saat ini. Mereka tidak baru saja bertemu, kemudian berkenalan dan melanjutkan ke jenjang berikutnya. Laksmi telah mengenal lelaki itu di separuh kehidupannya. Mas Aryo. Begitu Laksmi menyapanya dengan takzim. Seumur hidup, pria ini hanya dekat dengan dua perempuan. Ibunya dan Laksmi sendiri. Sosok yang santun dan bertanggung jawab, serta tidak banyak bicada membuat Laksmi merasa nyaman saat bersamanya. 

"Kenapa, Mbak?", pertanyaan itu lagi. Kali ini terlontar dari bibir adik sepupunya, Ayu. "Bukankah mengenalnya selama belasan tahun, sudah cukup untuk menjadi alasan?", Laksmi kembali meneguhkan hatinya.

Untuk ukuran seorang pria berperangai sederhana, Aryo jauh melampauinya. Tidak usah berbicara soal fisik karena itu akan termakan usia. Tapi perempuan mana yang tidak tergiur dengan tubuh kekar? Juga tatapan mata yang tajam, seolah menyiratkan beratnya beban kehidupan. Kemampuannya? Ah, tidak mungkin ia lulus magister dengan beasiswa penuh jika tidak berkemampuan. Dengan gelar yang ia miliki, tentu saja mudah untuknya memiliki posisi tinggi di pekerjaan. "Lalu apa lagi yang salah?", pikir Laksmi. Masih heran dengan sikap keluarga besarnya.

Saat yang dinantikan Laksmi pun tiba. Sesudahnya mereka melakukan salah satu tradisi turun menurun. Sungkeman. Secara bergantian Laksmi dan Aryo bersimpuh di hadapan orang tua serta mertua mereka. Dan kini giliran Laksmi yang memohon doa restu pada satu - satunya mertua yang ia miliki.

"Terimakasih, Bu... sudah merelakan Mas Aryo untuk menjadi pendamping hidupku", bisik Laksmi lirih.
"Non, Mbok..."
"Ibu...", Laksmi menyela. "Kini aku adalah menantumu."

#Writober
#RBMIpJakarta
#Ibuprofesionaljakarta

Sabtu, 05 Oktober 2019

TAKUT


Hari sudah beranjak malam, tapi hujan belum juga berhenti. Petir menggelegar seolah menunjukan kegagahannya. Membuat gadis kecilku terlonjak setiap kali mendengarnya.

"Na takut hujan, Bunda...", rengeknya terus menerus. Mungkin tidak dapat lupa dengan peristiwa yang belum lama menimpa keluarga kecil kami. Malam itu, di tengah hujan badai seperti saat ini, Baba terpaksa menerjang dengan motor tuanya. 

Namun naas, ketika melewati jalan yang licin, motor tersebut tergelincir. Tubuh Baba rebah ke aspal keras dan sebuah truk tanpa sengaja menyeretnya sejauh ratusan meter.

Di tempat lain, di tengah hujan yang sama, aku menerima panggilan telepon. Polisi. Tanpa banyak basa-basi, aku meraih Rayna kemudian langsung menuju rumah sakit. Dan di sanalah ia berada. Terbujur kaku di atas salah satu brankar, terselimuti secarik kain putih.

Rayna kecilku terpaksa melihat semuanya. Malam gelap. Hujan badai. Dan Babanya yang tak lagi bernyawa.

"Rayna, tidak perlu takut. Setelah hujan berhenti, akan selalu ada pelangi yang menyertai", ujarku seraya mengingat lelaki itu lagi. Sesosok manusia yang tanpa sadar menjadi pangkal dari ketakutanku akan kehidupan berumah tangga.

#Writober
#RBMIpJakarta
#Ibuprofesionaljakarta

Rabu, 26 Maret 2014

Transplantasi


Wajahku mendekati wajahnya.

Jantungku mulai berdetak cepat….

Tinggal sedikit lagi, dan bibir kami pun akan bertemu.

Jantungku semakin berdebar

Tiba tiba….

Aaaaaaaaaaaarrrrrrggggghhhhh…… rintihku seraya memegangi dada yang ntah mengapa sakit sekali ini.

“Kamu kenapaaaaaa????” tanyanya histeris.

“Jan..tung..ku…” jawabku terbata-bata, dan tiba-tiba semuanya gelap.

Jumat, 10 Januari 2014

Timun Suri

Cerpen ini  terinspirasi dari dongeng "Timun Mas"


Alkisah disuatu masa hiduplah sepasang suami istri yang telah lama menikah. Sang suami bernama Ramond dan istrinya bernama Quilla. Akan tetapi, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Beragam cara telah mereka tempuh, namun sepertinya semua sia-sia. Sang istri tak kunjung hamil. Dan sang suami pun akhirnya mulai lelah dengan kenyataan tersebut.

Suatu hari, sang suami mencapai titik terlelahnya. Dalam kekecewaan ia ceraikan sang istri dan meninggalkannya begitu saja.

Sang istri pun patah hati. Ia merasakan hal yang lazimnya di alami para remaja labil, GALAU. Sejak hari itu, hidupnya kacau balau. Makan. Tidur. Ber-shower. Dan ngetwit galau. Hanya itu yang ia lakukan setiap hari seraya meratapi nasibnya.

Jumat, 03 Januari 2014

Aku Juga Suka Kamu, Tapi...

source

Mutiara’s POV

Bertemu dengannya adalah hal yang paling menyenangkan. Ya, kalian tau rasanya mencintai bukan? Sangatlah indah. Seperti melihat bunga yang bermekaran, atau saat air hujan turun di musim kemarau atau pula, bintang yang jatuh saat ada satu permintaan. Yang jelas sangat menyenangkan.

Dia adalah Gabriel, sahabatku. Hmm… lebih tepatnya, dia kakak kelasku yang menjadi sahabatku. Kepribadiannya itu cukup menyenangkan. Ia ramah, baik dan sangat melindungiku. Dia juga bisa ku andalkan. Dia selalu bisa membuatku tertawa disaat aku hampir menangis, atau membuatku marah disaat aku sedang bosan. Tak jarang pula, ia sering membuatku merasa menjadi seorang perempuan di hadapannya. Astagah! Lelaki itu menguras isi fikiranku. Aku tidak tahu apa yang aku fikirkan.

“Hai Tia.” Sapanya pada pagi yang cerah. Aku pun tak mau kalah oleh sang mentari, aku memberikannya senyum yang lebih cerah dari mentari. Ia duduk disampingku dan mengambil segelas softdrink. Aku pun meminum jus jeruk kesukaanku.

“Nanti, pulang sekolah mau kemana?” Tanya Gabriel, aku berfikir sesaat. Mencoba meyakinkan diriku, hari ini aku tidak punya janji dengan siapapun. Setelah yakin, aku menggelengkan kepalaku dan menatapnya.

“Mau jalan?” aku sedikit tidak percaya, tapi… aku sangat senang, biasanya kami hanya menghabiskan waktu disekolah. Dan akan berpisah di rumah. Itu pun, jika dia mempunyai waktu untuk mengantarku. Ia segera menganggukkan kepalaku dan tersenyum manis.

Jumat, 29 November 2013

LDR oh LDR





LDR. Long Distance Relationshitship. Hubungan jarak jauh.
Pasti sudah tak asing lagi ditelinga kalian. Dan itu pulalah yang gue jalani selama setahun belakangan ini. Setahun yang lalu, tepat saat anniversary kita, Nero –pacar gue– berangkat ke Canberra, Australia untuk melanjutkan studinya. Sedangkan gue? gue cuma bisa nangis saat dia mulai memasuki ruang check in di bandara.

Jumat, 22 November 2013

Inikah Kesetiaan Itu?

source


Prolog

“Seratus tiga koma delapan, er-er -ge, Radionya Remaja Gaul!!!” terdengar jingle radio gue dari speaker, tanda waktu siaran gue tiba.
“Hello, everybody. Ketemu lagi sama gue, Vanya. Di Love Story at  er-er-ge, Radionya Remaja Gaul” gue memulai siaran.
“Selama satu jam ke depan, gue bakal ngebahas topik yang udah gak asing lagi nih di lingkungan kita. Kesetiaan! Seperti biasa, bakal ada yang curhat juga. Dan sekarang kita udah tersambung sama penelepon pertama. Halo?”
“Ya?” jawab cewek di seberang sana.
“Kenalin dong nama lo!” pinta gue.
“Hmmm kalian bisa panggil gue, Citra”
“Oke Citra, bisa dimulai cerita lo?”
“Yap”

Minggu, 28 Juli 2013

When a Boy Became a Man

Kalau laki-laki sudah pasti cowok, tapi kalau cowok belum pasti laki-laki

Kata-kata itu selalu terngiang dalam benak ku. Sebuah perkataan almarhum ibu kandung ku, bertahan-tahun yang lalu. Aku memegang teguh perkataan ibu dengan tidak pernah menjalin hubungan apa pun hingga saat ini di usia ku yang sudah menginjak 23 tahun. Karena yang aku tahu, cowok tak akan pernah mengajakku menjalin hubungan yang pasti.

Tapi saat ini aku dihadapkan pada suatu kenyataan yang sebenarnya aku sukai. Menikah. Siapa sih yang tak menginginkannya? Akan tetapi lelaki yang mau memperistriku itu bukanlah laki-laki, ia hanya seorang cowok. Usianya 5 tahun lebih muda dariku dan sudah pasti ini adalah perjodohan. Tepatnya perjodohan yang dilakukan oleh ibu tiriku -yang kini menjadi orang tuaku satu-satunya, semenjak ayah meninggal-


Senin, 29 April 2013

Cinta Harus Begini...

Aku bisa terima meski harus terluka
Karena ku terlalu mengenal hatimu
Aku telah merasa dari awal pertama
Kau takkan bisa lama berpaling darinya

Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah sekedar tuk sementara
Akhirnya kita harus memilih satu yang pasti
Mana mungkin terus jalani cinta begini

Karena cinta tak akan ingkari
Takkan terbagi
Kembalilah pada dirinya
Biar ku yang mengalah
Aku terima


Senin, 18 Maret 2013

Om 'Jelek' itu Ayahku

Makin kesini makin sadar, bakat gue bukan di artikel. So... sok atuh diliat cerpen gue setelah sekian lama hibernasi


~ Aletha’s POV ~

Ugh om jelek, kenapa dia terus bertemu kami sih?

“Bunda, can we go?

Wait dear, we'll have lunch with Uncle Teddy, right?

“Umm… yes, Bun”

“Hey Luna!” seru om itu seraya memeluk bundaku. “And… Hi my little angel” ia membungkuk dihadapanku dan mengecup pipi.

Ugh… siapa dia? Seenaknya saja mengecup pipiku. Dan apa katanya? My little angel? You wish om!

Aku menatap om jelek dengan nanar. Bunda menyenggol lenganku. Aku menatap bunda, seolah berkata umm-ya-ya-ya.

“Hai Om Teri… ups sorry… Om Teddy” aku menyungingkan senyum lebar yang sama sekali tak ku ikhlaskan untuknya.

Om jelek malah tertawa. Aku benci melihatnyaaa!!

“Kalian mau pesan apa?” tanya om jelek dengan sebuah senyum tersungging di bibir. Dan sayangnya aku malah menemukan ketulusan didalam senyum itu. Ugh…

Aku memandangi gambar dihadapanku. Daging berbumbu yang dipanggang diatas bara api. Namanya sulit sekali, dengan perlahan aku berusaha melafalkannya. Tetapi kemudian tanpa aba-aba dan dengan sangat cepat (bagiku), bunda memesan nasi goreng untuknya dan… cream soup untukku! Ah tidak adil! Aku ingin daging panggang itu bunda!!!

“Bunda…” rajukku manja.

Yes, Dear?”

Can I eat this?” tanyaku dengan wajah melas seraya menunjuk gambar daging panggang itu.

“Hmm tapi bunda sudah memesankan cream soup untukmu, Letha” jawab bunda tenang, namun aku tahu pasti ia takkan terbantahkan.

“Luna, aku mau pesan itu. Jadi bagaimana kalau aku dan Letha bertukar makanan, kamu mau kan Letha?” tanya om Teri ups salah… Om Teddy hihihi.

Bertukar dengan om Teri? Iyeuuuuh. Ah tapi aku ingin daging panggang itu!!

“Umm aku mau” jawabku dingin.

“Tapi Ted…” sela bunda.

Oh come on, Bunda. Aku ingin daging panggang itu!!

“Nggak apa kok, Lun” kata om Teddy seraya tersenyum. Kemudian ia memesankan daging panggang itu untukku. Ya! untukku!! Yippieeee…



***

“Aku bersedia…” ujar bunda dihadapan semua orang.

“Silahkan mengecup mempelaimu” perintah seorang pendeta dihadapan mereka.

Ya... akhirnya bunda dan om Teddy menikah juga. Tante Tia menutupi mataku, tetapi katanya Om Jelek –maksudku Om Teddy mengecup bibir bunda dengan mesra. Mesra? Apa itu? Aku pun tak tahu. Ah sudahlah yang penting mereka saling mencintai. Ah cinta kata apa lagi itu? Lagi-lagi aku tak tau artinya.

Tante Tia melepaskan tangannya. Sekarang Bunda serta Om Teddy akan menuruni altar dan keluar dari gereja.

Inilah kesempatanku untuk memberikannya, pikirku.

Bunda dan Om Teddy mendekati tempat aku dan Tante Tia berada. Kemudian aku menyelipkan sebuah amplop di tangan Om Teddy.

“Terima kasih Letha” ujarnya seraya memberikan sebentuk senyuman.

Mereka berjalan terus hingga keluar dari gereja dan menaiki sebuah mobil sedan berwarna putih yang dihiasi bunga mawar merah. Indah sekali pokoknya. Sepertinya itu juga akan menjadi pilihanku nanti. Kata Tante Tia, mereka akan pergi berbulan madu. Apa maksudnya? Kali ini Tante Tia menjawabnya. Katanya aku akan memiliki adik.

“Yeeeeeey!!! Letha mau punya adiiiik!!”, teriakku lantang. Tante Tia sampai membekap mulutku. Semua pasang mata menatap kearah kami. Kemudian salah satu dari mereka tertawa. Bagai estafet mereka semua tertawa

Hahaha… Hahaha… Hahaha… begitu bunyinya

***

Epilog

~ Author’s POV ~

Dear Om Jelek Ganteng (Kata Tante Tia gak boleh bilang jelek lagi -_-),
source
Kamu boleh jadi suami bundaku dan tentunya… papa ah nggak! Nggak! Bagiku kamu tetap om Jelek Ganteng yang suka kasih aku daging panggang hihihi.
Tapi… kata tante Tia, kamu sama bundaku akan menghasilkan adik untukku ya? Ummm baiklah aku akan panggil kamu… papa mungkin? Ah tidak! tidak! Papaku cuma satu, sekarang udah di surga.
Tante Tia ngusulin buat manggil kamu ayah? Aku suka itu! Kamu suka gak? Suka gak suka harus itu! Yaudah aku panggil kamu ayah.
Makasih Ayah mau terima bunda jadi istri kamu, dan pastinya mau jadi ayahku.
Makasih Om Ganteng! Eh salah ding… Ayah Ganteng!
Dan oh iya… kalau kalian udah pulang dari bulan madu (emang ada ya nama tempat “bulan madu”? aneh!) kalian harus bawain aku adik!

XXOO (kata tante Tia ini artinya kecup-kecup-peluk-peluk)
Your Little Angel
Aletha

“Hahahaha” berakhirnya surat itu maka meledaklah tawa Teddy.

Why Dear?” tanya Luna.

Teddy menunjukkan surat di tangannya.

“Astaga Tiaaaaaa!!!!”

Jumat, 19 Agustus 2011

Hanya Untukmu : Sebuah Kisah Perjuangan

“TEMBAAAAAKKKK” seru seorang lelaki.

JEDOOOOORRRRR!!!!!! JEDOOOOOOORRRRR!!!!! JEDOOOOOORRRRRR!!!!!!

“AAAAAAAKKKKHHHHH” rintih seorang tentara yang kemudian akan rebah ke tanah, tetapi ditahan oleh tentara lain, Sukarji.

“Lapor Jenderal! salah satu rekan kita tertembak!” ujar tentara itu. Kemudian tentara itu memapah rekannya ke dalam tenda, tempat dimana para perawat berada. Ia membaringkan rekannya itu di salah satu ranjang yang tersedia.

“Cepat tolong tentara ini” perintahnya kepada para perawat. Kemudian seorang perawat —Lastri —­­­ yang membawa kotak berisikan peralatan, menghampiri mereka.

“Apa yang terjadi?” tanyanya.

“Teman saya ini, Soekoco tertembak” ujar Sukarji.

Perawat itu mengeluarkan sesuatu dari kotak dan membisiki Sukarji.

Sukarji mengangguk pertanda setuju. Kemudian ia mengalihkan perhatian Soekoco, selama Lastri mengeluarkan peluru dari pahanya.

“AAAAAAAKKKKHHHHH” Soekoco mengerang dan kemudian tak sadarkan diri.

Lastri menjahit lukanya dan kemudian menutupnya dengan perban.

“KITA DISERANG!!!!” teriak seorang tentara yang berjaga di depan tenda.

“Bagaimana ini, Mas?” tanya Lastri panik. Lastri adalah seorang perawat yang baru saja bergabung dengan kelompok tentara ini, maka ia masih belum bisa beradaptasi dengan keadaan.

“Adek tenang saja, kita keluar sama-sama” bisik Sukarji.

“Tapi Mas? Bagaimana dengan Mas yang ini?” Lastri menunjuk Soekoco.

“Kita akan membopong dia bersama, mari Dek kita angkat dia”

Sukarji mengangkat tubuh Soekoco dari ranjang, kemudan Lastri memegangi kakinya yang terluka. Mereka berjalan kearah pintu belakang.

“Sebentar Dek, saya akan lihat keadaan dulu” Sukarji mengintip keluar tenda. “Aman, nanti kalau saya beri aba-aba kita lari” katanya tanpa suara. Dengan langkah pelan mereka keluar dari tenda itu. Terdengar derap langkah kaki yang sangat keras. TRAP… TRAP… TRAP… itu pasti kompeni, pikir Sukarji.

“Ono wong Londo… wong londo…1” mulutnya berucap tanpa suara.

“Bagaimana ini?” bisik Lastri lirih.

“Kamu kuat ndak membopong dia?”

“Insya Allah, kuat Mas”

“Baik, kamu bawa dia ke tempat aman, nanti saya akan menyusul”

“Tapi… Tapi…”

“Sudah, cepat sana kamu amankan dia dulu”

“Bbb…bbaaik… Mas”

Kemudian mereka berjalan ke arah yang berlawanan.

***

Sukarji pergi ke tempat dimana ia tadi mendengar derap langkah kaki tersebut. Ia siapkan senapannya, dan dengan perlahan ia berjalan. Suara itu membawanya ke tenda. Dari luar terdengar beberapa orang yang tengah berdiskusi dalam bahasa Belanda. Beruntung bagi Sukarji, karena ia pernah mempelajari bahasa itu. Maka ia mengerti, walaupun sedikit.

“Ik heb het gevoel dat er mensen zijn die er in Indonesie2” kata seorang tentara.

“Ik zou bestelde wat soldaten te bewaken. Zodat niemand ons horen3” ujar tentara lain.

“Jij, jij, en jij, bestelde ik deze tent net buiten. Laat niemand afluisteren ons gesprek. Als iemand weet, zal u afgesneden je hoofd4” perintahnya.

“Klaar voor commandant!!!5” teriak ketiga tentara tersebut.

Seketika Sukarji berpindah ke belakang semak-semak. Kemudian ia membalikan badan, bersiap untuk lari ke tempat perlindungan. Namun naas baginya, saat ia berbalik, seorang tentara Belanda telah berada di depannya.

“Indonesië gij volk! SHOOT6” serunya. Dan tersungkurlah Sukarji di kaki tentara itu.

***

5 hari kemudian….

Beberapa tentara memasuki tempat perlindungan itu. Lastri menghampiri salah satunya.

“Mas,mana Mas Karji? Mengapa beliau tidak ada disini?” tanyanya.

“Karji? Sukarji?” tanya tentara itu.

“Iya Mas, dia baik-baik saja kan?”

“Maafkan saya, Dek. Tapi saya harus mengatakan ini”

"Apa yang terjadi, Mas?”

“Sukarji telah tiada, tadi pagi kami menemukan jasadnya dan di saku seragamnya terdapat ini” tentara itu menyerahkan bungkusan yang telah terpercik darah. Lastri menerimanya. Dengan perlahan ia membukanya. Bungkusan itu berisi selendang dan sepucuk surat.

Teroentoek Lastri dimana poen engkaoe berada,

Moengkin saat kamoe membatja soerat ini, saja telah tiada. Tetapi saja ingin kamoe tahoe, bahwa saja sangat mentjintai kamoe.

Ini saja kembalikan selendangmoe, jang waktoe itoe kamoe pakai oentoek membaloet loekakoe.

Terima kasih.

Jang mentjintaimoe,

Soekarji7

Seketika itu juga jatuhlah air mata Lastri. Aku juga mencintaimu, Mas.... Karna itu aku akan memperjuangkan kemerdekaan negara ini. Untukmu.... hanya untukmu....

***

10 tahun kemudian....

"Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatna. jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 05. Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno/Hatta"

Terdengar suara lantang Soekarno dari radio tua milik Lastri. Aku persembahkan kemerdekaan ini untukmu, Mas. Hanya untukmu...

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Keterangan

1 Ada orang Belanda… orang Belanda…

2 Aku merasa ada orang Indonesia di luar sana

3 Aku akan memerintahkan beberapa tentara untuk berjaga.Agar tidak ada yang mendengar pembicaraan kita

4 Kau, kau, dan kau, aku perintahkan untuk berjaga diluar tenda ini. Jangan sampai ada orang yang mencuri dengar pembicaraan kami. kalau sampai ada yang tahu, kepala kalian akan kupenggal

5 Siap komandan!!!

6 kamu orang indonesia! TEMBAK!

7 Teruntuk Lastri dimana pun engkau berada,

Mungkin saat kamu membaca surat ini, saya telah tiada. Tetapi saya ingin kamu tahu, bahwa saja sangat mencintai kamu.

Ini saya kembalikan selendangmu, yang waktu itu kamu pakai untuk membalut lukaku.

Terima kasih.

Yang mencintaimu,

Sukarji

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Theme Song

Dengan seluruh angkasa raya memuja

Pahlawan negara

Nan gugur remaja diribaan bendera

Bela nusa bangsa

Kau kukenang wahai bunga putra bangsa

Harga jasa

Kau Cahya pelita

Bagi Indonesia merdeka

Sabtu, 25 Juni 2011

Cinta 100 Hari

Dika dan Dilla. Bersahabat sejak kecil menjadikan mereka bagaikan surat dan perangko. Dimana ada Dika, disana pasti ada Dilla. Begitu pun sebaliknya, dimana ada Dilla, sudah bisa dipastikan disana juga ada Dika. Mereka selalu bersama, pergi bersama, sekolah di sekolah yang sama serta kelas yang sama. Sampai ketika kuliah pun mereka memilih universi...tas yang sama, pun begitu dengan jurusannya. Dan tanpa mereka sadari, sebenarnya mereka saling cinta. Hanya saja tak satu pun dari mereka berani mengungkapkannya.



Siang itu, seperti biasa mereka sedang mengobrol di taman gedung fakultas.



“Dilla, tau gak persamaan gue sama lo?”



“Taulah Dikaaaa….. lo sama gue kan udah sahabatan lama banget”



“Apaan?”



“Lo juga bisa jawab kali”



“Ya emang, tapi gue pengen tau dari sisi elo”



“Yaudah, nih ya gue kasih tau. Pasang telinga lebar-lebar, kalo perlu lo catet deh Dik”, sahut Dilla seraya tertawa.



“Pertama, umur. Kedua, hobi. Ketiga, sekolah sama kuliah. Keempat, sifat. Udah ah, kalo gue semuanya mah sehari juga gak bakal cukup Dik”



“Eh ada yang kurang tau, Dill”



“Apaan lagi?



“Sama-sama free”



“Maksud lo, Dik?”



“Ya free, gak ada pacar maksud gue”, jelas Dika



“Eits, enak aja. Itu mah elo kali Dik, kalo gue mah punya lagi….”, ujar Dilla membela dirinya.



“Siapa? Reno? Dia tau ada lo aja, belom tentu. Apalagi pacaran sama lo”



“Iiiih…jahat bener sih. Kan boleh aja ngarep”



“Eh Dill, gue boleh ngomong sesuatu gak?”



“Ya ngomong aja”



“Tapi lo jangan ngetawain gue yaa…”



“Iya, udah buruan deh kalo mau ngomong”



“Dilla, gue udah bosen nih jadi jomblo”



“Yeee… itu mah DL –derita lo,red.–. Hahahaha”, sahut Dilla seraya tertawa.
...



“Aaaaah… lo mah gitu, katanya gak bakal ketawa?” Dika pura-pura ngambek.



“Ya maaf deh. Yaudahlah lo cari cewek Dik. Jangan sama gue terus. Gampang kan?



“Ngomongnya sih gampang. Kenyataannya? Mana ada yang mau sama gue?”



“Aaaah jangan gitu dong. Masih ada kok yang mau sama lo, Dik”



“Siapa? Siapa?” tanya Dika dengan antusiasnya.



“ Mbok Jum! Hahahaha”



“Rese lo Dill. Gue kira beneran. Eh taunya pembantu lo”



“Dik, lama-lama gue juga kayaknya…”



“Dill, mau gak…”



“Lo dulu deh Dill”



“Lo aja”



“Ooooo tidak bisaaa. Ladies first”



“Yaudah. Jadi ya gitu deh, gue juga kayaknya udah bosen nih jadi jomblowati. Sekarang giliran lo, Dik”



“Hmmm… gimana ya? gue kok jadi bingung ngomongnya”



“Yailah, tinggal ngomong aja apa susahnya sih? Jadi lo mau ngomong apa nih?”



“Kita kan sama-sama jomblo nih. Sementara temen-temen yang lain udah pada punya
gandengan masing-masing”



"Terus kenapa?”, tanya Dilla



“Mau gak kalo kita, main drama romantis selama 100 hari ke depan?”


“Maksud lo, Dik?”



“Ya seolah-olah kita pacaran gitu. Just for fun aja, Dill”



“Hmmm… gimana ya? boleh juga sih. Tapi kan lo tau gue lagi ngincer Reno”



“Ya nanti kalo, lo sama Reno bener-bener jadian ya kita putus aja. Lagian lo kan juga tau kalo gue PDKT sama Lidya”



“Oh begitu ya? yaudah, gue mau deh. Tapi ada syaratnya”



“Apaan? Pasti gue turutin deh”



“Pertama, kita tetep pake lo-gue. Kedua, kalo lagi di kampus nggak ada panggilan dengan‘sayang’, ‘cinta’, sama sejenisnyalah. Ketiga, walaupun ini cuma just for fun, tapi lo harus perlakuin gue sebagaimana lo perlakuin pacar lo”



“Udah? Itu doang Dill?”



“Iya. Gampangkan?”



“Bukannya gampang lagi itu mah. Kalo cuma gitu doang sih kecil, Dilla. Gue kirain tuh syarat lo apa gitu, eh taunya beginian doang”



“Berarti mulai detik ini kita resmi jadian ya.”



“Iya dong Dill”



Dan akhirnya mereka pun resmi menjadi sepasang kekasih. Pada hari itu mereka berjanji bahwa hanya akan terjadi selama 100 hari saja. Sepulang kuliah mereka melakukan kencan pertama, layaknya sepasang kekasih. Setelahnya mereka tak langsung pulang, mereka menikmati bintang-bintang yang berkelap kelip, dan kini telah menjadi saksi cinta mereka berdua.





Hari ke-30

Tak terasa, sudah genap satu bulan hubungan itu terbina dengan indahnya. Cinta mereka semakin menyatu. Tetapi tak seorang pun diantara mereka yang tau bahwa sebenernya mereka saling cinta. Jalan berdua di malam minggu, mengerjakan tugas bersama, makan bersama adalah secuil dari kegiatan mereka. Mereka sepakat untuk merayakan hubungan ini dengan makan malam romantis di salah satu café ternama di Jakarta.


Malam itu, Dika menjemput Dilla di rumahnya. Lalu mereka pun segera pergi. Tak lupa sebelumnya Dika memperkenalkan diri kepada orang tua Dilla. Dilla memperkenalkan Dika sebagai kekasihnya. Alangkah senangnya hati Dika, tetapi sayangnya Dilla tak mengetahui itu.





Hari ke 60,

Dua bulan telah terlewati, mereka kembali merayakankannya. Perasaan mer...eka masih sama. Namun, belum ada diantara mereka yang berani mengungkapkannya.





Hari ke 90,

Bulan ketiga telah terlampaui, tetapi keadaan masih tetap sama. Perasaan kedua anak manusia yang sama dan ketidakberanian untuk mengungkapkan isi hati.





Hari ke-97

Hari itu mereka membolos bersama dan jalan-jalan di Mall seharian. Makan, nonton, dan keluar masuk toko demi memuaskan mata. Mereka menutup hari itu dengan menatap bintang-bintang di area parkir teratas seraya memflashback seluruh kebersamaan mereka selama sembilan puluh tujuh hari.





Hari ke-100

Tanpa mereka sadari, tekad mereka hari ini sama.



Hari ini gue harus nyatain perasaan gue ke Dilla, masa udah 100 hari pacaran tapinya dia gak tau perasaan gue, batin Dika berkata.



Gue harus kasih tau yang sebenarnya ke Dika, kali ini batin Dilla yang berkata.



Mereka merayakan hari ke 100 itu dengan pergi berdua ke Bogor.



“Dika, gue kesana sebentar ya… mau beli minum. Lo mau titip apa, Dik?”



“Sini biar gue aja yang beli, lo mau apa Dill?”



“Lo kan udah nyetir jauh, Dik. Lo pasti capek kan? Udah gapapa gue aja yang beli. Lo mau titip apa?”



“Yaudah terserah lo aja deh, gue titip Fruit Tea ya.”



“Oke”



“Hati-hati ya pas nyebrang, mobilnya pada kenceng-kenceng banget”


“Siplah, Say”



Dilla pun berjalan ke seberang jalan untuk membeli minuman. Namun, tepat ketika ia akan kembali ke tempat Dika berada, peristiwa itu terjadi. Sebuah mobil berkecepatan tinggi, menabrak tubuh Dilla. Kemudian tubuhnya terpental dan jatuh di ke jalanan. Mobil itu langsung menghilang secepat kilat. Dengan kesadaran yang... mulai melemah, sayup-sayup telinganya mendengar suara teriakan.



“TABRAK LARI WOY!!!! TABRAK LARI!!!




Dika tidak melihat peristiwa tragis itu. Tetapi ia mendengar suara teriakan tadi. Ia berbalik badan dan melihat kerumunan orang di tengah jalan raya. Segera ia berlari menerobos kerumunan itu. Dan menemukan bahwa korbannya adalah Dilla. Dengan segera dia melarikan Dilla ke rumah sakit terdekat. Namun semua telah terlambat ,dalam perjalanan menuju rumah sakit, Dilla menghembuskan nafas terakhirnya.







Keesokkan harinya, setelah jenazah Dilla dimakamkan, Dika membuka surat yang ia temukan di saku kemeja Dilla. Di amplopnya tertulis “To : Dika”



Dear Dika,

Hari ini adalah hari ke 100 kita menjalin hubungan ini. Banyak hal-hal indah yang gue alami selama bersama lo, Dik. Yang kalo gue sebutin satu-satu, bisa-bisa lo baca surat ini sampe berhari-hari.



Dika,

Gue gak tau harus mulai ngomong darimana, mungkin ini aneh atau gimana gitu. Tapi jujur gue seneng banget bisa ada hubungan sama lo, walaupun pacaran kita ini cuma permainan semata.



Sekali lagi gue seneng banget karena bisa melalui 100 hari ini sama lo. Karena gue sebenernya itu sayang sama lo. Tapi sayangnya bukan sebatas teman. Bisa di bilang gue CINTA sama lo, Dika. Ini sebenernya udah gue rasain lama banget. Tapi gue nggak ada keberanian buat ngungkapinnya.



Seketika itu juga air matanya jatuh membasahi pipi. Gue juga cinta sama lo Dilla, kali ini bukan hanya dengan matanya saja ia menangis namun juga dengan hatinya.





Berbulan-bulan kemudian,




“Ayo say, cepetan katanya mau ke makam Dilla”, ajak Lydia



“Iya bentar, Lyd”



Beberapa bulan kemudian, akhirnya Dika berpacaran dengan gadis yang selalu dikejar-kejarnya, Lidya. Namun Dilla, tetap mendapat bagian di hatinya. Lidya mengetahuinya dan memaklumi itu, bahkan ia selalu menyempatkan diri untuk menemani Dika berziarah ke makam mantan kekasihya itu.









Nyatakanlah cintamu sesegera mungkin, jangan sampai kau menyesal di kemudian hari - vanka pramudita

Pengorbanan Demi Kebahagiaan

Ada seorang gadis bernama Nadine. Ia sangat menyukai salah seorang kakak kelasnya, yaitu Tristan dan berharap dapat menjadi kekasihnya. Akan tetapi karena ia tidak mungkin menyatakan langsung perasaannya kepada Tristan, ia hanya memendamnya dan terus berharap.

Hingga pada suatu ketika, Tristan pun mengajak Nadine mengobrol untuk pe...rtama kalinya. Hati Nadine pun berbunga-bunga. Dan sejak saat itu pun mereka menjadi dekat.

Ternyata, apa yang Nadine harapkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Tristan mendekati Nadine hanya untuk mencari informasi tentang Sarah, sahabatnya Nadine. Karena sebetulnya Tristan menyukai Sarah, begitu pun sebaliknya.

Akhirnya dengan segenap kesabaran dan keikhlasannya, Nadine pun mencomblangi Tristan dan Sarah. Hingga akhirnya mereka berdua pun berpacaran. Setiap hari Nadine melihat mereka berdua bermesraan dan lain sebagainya. Karena tidak tahan melihat kedekatan mereka berdua, Nadine pun memutuskan untuk pindah sekolah.

Beruntung, ayah Nadine ditugaskan untuk dinas di Bandung selama 2 tahun. Akhirnya Nadine beserta keluarganya pindah ke Bandung. Dan Nadine pun bersekolah disana.



2 Tahun kemudian….

Masa dinas ayah Nadine telah habis. Dan mereka semua harus kembali ke Jakarta. Tetapi, Nadine baru saja diterima di ITB. Dan akhirnya ia memutuskan untuk tetap di Bandung dan mengekost disana. 2 tahun kemudian Nadine pun lulus. Dan karena semasa kuliah Nadine sudah memiliki bisnis kecil, Nadine tidak kembali ke Jakarta. Tetapi meneruskan bisnis tersebut.



Setahun kemudian…

Nadine telah memiliki kekasih, ia bernama Alex dan beberapa bulan kemudian mereka pun menikah. Sebulan kemudian, tepatnya ketika usia perkawinan mereka tepat 1 bulan, Nadine pun hamil. Dan 9 bulan kemudian, anak Nadine pun lahir. Anak itu diberi nama Nadira.



3 Bulan kemudian…

Nadine mendapat kabar bahwa Tristan dan Sarah satu minggu lagi akan menikah, dan Nadine diminta untuk menjadi saksi dalam pernikahan tersebut. Akhirnya 2 hari sebelum pernikahan Tristan dan Sarah berlangsung, Nadine beserta anak dan suaminya berangkat ke Jakarta.

Hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Pukul 8 pagi, Nadine sudah bersiap di rumah Sarah. Dan pada pukul 10 pun, acara pernikahan itu dimulai. Nadine menjadi saksi dalam pernikahan tersebut.

Beberapa hari kemudian, Nadine beserta keluarga kecilnya itu pun kembali ke Bandung. Dan kembali pada aktifitas mereka masing-masing.







1 tahun kemudian…

Sarah mengabari Nadine bahwa ia telah memiliki seorang anak dan juga mengundang Nadine serta keluarganya untuk menghadiri pesta ulang tahun pernikahannya yang pertama. Mereka pun bersiap siap dan pada keesokkan harinya berangkat ke Jakarta. Dan Alex memutuskan agar mereka semua tinggal di Jakarta dan bisnisnya di Bandung diurus oleh adiknya.

Mereka pun menghadiri acara ulang tahun pernikahan itu. Dan akhirnya Nadine dan Sarah beserta keluarga menjadi sangat dekat.













Epilog



Akhirnya, mereka semua menjadi sangat dekat. Bahkan Tristan dan Alex yang tadinya tidak saling mengenal menjadi seperti saudara. Begitu pun anak anak mereka, Nadira dan Shavira (anak dari Tristan dan Sarah) mereka bagai surat dan perangko saja.

Dan upaya serta pengorbanan Nadine untuk menyatukan Tristan dan Sarah semasa SMA pun tidak sia sia. Karena kini mereka hidup bahagia. Begitu pun dirinya dan Alex.





By :

Vanka

15/6/2010