Kamis, 12 Juni 2014. Lagi ketar ketir nunggu giliran interview tetiba si hape ngejerit unyu, ada mensyen dari kakaknya kucing
Tampilkan postingan dengan label Gerakan menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gerakan menulis. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 Juni 2014
Rabu, 29 Januari 2014
Second Chance 6/6
***
Epilog
Setelah hari dimana mereka
berdua kembali, hubungan antara keduanya juga berlanjut. Walaupun pemulihan Ara
berlangsung lebih lama dari yang seharusnya, tetapi Reza tetap menemani. Begitu
pun dengan Reza, dengan ARV* yang saat ini selalu ia konsumsi, kondisinya berangsur-angsur pulih.
Hari
ini sudah enam bulan sejak peristiwa tersebut. Reza sedang bersiap untuk hari
bahagianya. Pun begitu dengan Ara. Ya! Mereka akan melangsungkan pernikahannya.
“Tak perlu ada proses lamaran bu, kami sudah yakin kok” ujar Ara saat ditanya
ibunya mengenai proses lamaran. Baginya proses tersebut sudah terjadi saat
mereka sama-sama koma.
Pukul
9 tepat. Reza beserta ibunya dan Lala tiba di kediaman keluarga Kusuma. Reza
tersenyum saat mengingat kisah cinta masa kecilnya yang berakhir di halaman
rumah itu. Tapi kini, dua puluh tahun kemudian justru dirinya yang mendatangi rumah
itu lagi dan membuat kisah cinta baru.
Upacara
pernikahan itu berlangsung dengan khidmat. Saat ijab kabul diucapkan dengan
lantang oleh Reza, air mata bahagia Ara sudah tak dapat terbendung lagi. Dalam
benaknya terlintas peristiwa-peristiwa sebelum pernikahannya ini. Kisah cinta
masa kecilnya dengan Reza, perpisahan yang berujung kehancuran dirinya, kisah
cinta dengan lelaki-lelaki pelampiasan cintanya, hingga kecelakaan yang
menyatukan kembali dirinya serta Reza, juga janji yang sekarang sudah dapat ia
tepati kepada Lala.
Keduanya
kembali ke dalam realita. Waktunya Reza memasangkan cincin di jari manis Ara,
dan begitu pun sebaliknya. Kemudian Ara mencium tangan suaminya itu, lalu Reza
mengecup kening Ara. Tanpa sadar air mata keduanya mengalir bersama dan menyatu
bagai hati mereka. Mereka berpelukan bagai sepasang kekasih yang tengah melepas
rindu.
“Thanks for comeback, Za” bisik Ara
“You too, Ra” bisik Reza.
*Antiretroviral (terapi untuk ODHA)
Selasa, 28 Januari 2014
Second Chance 5/6
“Kamu...”
“Ya!!!”
“Sejak kapan...”
“Sejak kapan apa?”
“Sejak kapan kamu tahu, aku Rezamu?!”
Senin, 27 Januari 2014
Second Chance 4/6
“Menenangkan”
“Really?”
“Yeah... beberapa masalah kuselesaikan, sekarang
aku tenang”
“Lalu mengapa kau tak pergi?”
“Aku tak bisa meninggalkan mereka”
Reza menatap ke arah pintu yang
terbuka, lalu tampak seorang ibu paruh baya seraya menuntun anak perempuan di
belakangnya. Ibu tersebut menarik kursi ke samping ranjang Reza, kemudian duduk
dan memangku anak perempuan yang sedari tadi mengekorinya. Anak perempuan
tersebut memandang Reza, terpampang jelas di wajah mungilnya pilu yang sangat
mendalam.
Minggu, 26 Januari 2014
Second Chance 3/6
“Mereka menyebutnya dengan koma. Tapi bagiku, ini
adalah kesempatan kedua. Mungkin bagimu juga akan begitu. Adakah masalahmu yang
belum sempat kau selesaikan, Ra?”
“Terlalu banyak masalahku, Za. Dan sepertinya tidak
akan pernah selesai”
“Jangan pesimis begitu, Ra. Seperti kataku tadi,
anggap saja ini kesempatan kedua. Aku akan membantu menyelesaikan masalahmu”
“Lalu aku akan mati, Za?”
“Aku tak tahu, Ra. Hanya Tuhan yang tahu. Tetapi
jika kau mengizinkan, aku ingin membantumu”
“Mengapa?”
Sabtu, 25 Januari 2014
Second Chance 2/6
22 Januari
2014
Mimpi buruk memaksa Ara untuk
terjaga dari tidurnya. Suatu mimpi dimana ia terlempar beberapa ratus meter
dari sepeda motor yang dikendarainya. Tubuhnya terhempas di trotoar berbatu
dengan kondisi menelungkup, tampak jelas disana cairan merah pekat mengalir
dari pelipis.
Ara bergidik menyadari bahwa
mungkin saja mimpi itu adalah kenyataan yang akan menimpanya. Well, itu biasa
terjadi kan? Kamu bermimpi dan mimpi itu jadi kenyataan. Ara mencubit lengannya
sendiri untuk memastikan bahwa ia hanya bermimpi. Seharusnya sakit, tapi
kenyataannya terasa sedikit pun tidak. Aneh.
Ara memutuskan untuk tidak
terlalu peduli dengan keanehan tadi, ia pikir lebih baik mencari tahu dimana ia
berada. Tempat ini juga sangat aneh serta asing, entah mengapa dibatasi dengan
tirai-tirai berwarna hijau pupus. Wait, sepertinya ini tidak asing. Bangsal
rumah sakitkah? Astaga! Jadi kecelakaan itu benar-benar terjadi. Ara menatap
nanar tubuh yang tergolek lemah di atas tempat tidur. Mirip sekali dengan diriku, pikirnya. Cairan berwarna merah pekat,
merembas dari balik perban dikepala gadis itu. Pembuluh darah ditangannya
tersambung dengan infus bercairan bening.
“INI TIDAK MUNGKIIIIIIIN”
Kamis, 23 Januari 2014
Takdir
![]() |
| source |
"Rizki, jodoh, maut itu takdir Tuhan"
Sebagian orang mempercayai, jika suatu takdir tidak
dapat berubah. Tetapi pada dasarnya, ada dua jenis takdir. Yang dapat berubah
dan yang tidak dapat berubah.
Takdir yang dapat berubah itu apa sih contohnya?
Kata pertama dari frasa diatas. Rizki.
Rizki itu kan segala yang kita terima dari Tuhan.
Banyak sedikitnya tergantung dari sikap serta perbuatan kita. Jika kita bekerja
dengan sungguh-sungguh, maka hasil yang didapat akan maksimal. Sebaliknya jika
kita bermalas-malasan, maka hasil yang didapat pun akan tidak maksimal. Tetapi berapa
pun hasil yang kita dapat, selalulah bersyukur masih mendapat hasil
Kemudian apa sih contoh takdir yang tidak dapat
berubah? Kata kedua dan ketiga dari frasa diatas. Jodoh dan maut.
Second Chance 1/6
Aku selalu mencari jalan untuk menuju
kematian. Tetapi saat kematian itu sendiri menghampiri, aku takut dengan apa
yang akan terjadi.
***
Prolog
22 Januari
1994
Sepasang manusia yang masih
sangat muda tengah bercengkrama dengan riang. “Bermain rumah-rumahan” begitu
kata mereka pada orang yang bertanya. Gadis kecil itu berperan sebagai ibu, dan
teman lelakinya berperan sebagai ayah. Boneka-boneka si gadis, mereka sebut
dengan “anak”. Hingga petang tiba, teman
lelakinya harus pulang. Agar saat orang tua si gadis pulang dari pekerjaannya,
mereka tak melihat si lelaki.
Selalu terulang setiap hari, hingga suatu ketika
saat harus pulang anak lelaki itu berkata “Paramita, aku lelah seperti ini” Entah
darimana ia belajar mengatakan itu.
“Aku pun begitu, Reza” celetuk Paramita.
“Hari ini, bolehkah aku tinggal lebih lama?”
“Tetapi bagaimana dengan orang tuaku?”
“Tak apa, Paramitaku. Aku ingin menemui mereka”
Pipi Paramita bersemu merah mendengar ucapan Reza. Tak
lama kemudian, orang tua Paramita tiba dirumah. Dan benar saja, apa yang
ditakutkannya terjadi. Reza tak diizinkan mengunjunginya lagi. Malam itu,
kediaman keluarga Kusuma dipenuhi pertengkaran yang berujung dengan keputusan
sang ayah untuk mengirim Paramita ke rumah pamannya di Australia.
Hari keberangkatan pun tiba,
beruntung melalui kakaknya, Paramita masih dapat berkomunikasi dengan Reza. Hari itu Reza datang, ia kenakan pakaian terbaiknya hanya untuk mengucapkan
selamat tinggal pada teman yang telah ia anggap sebagai belahan jiwanya. Ia
ingin sekali menghampiri Paramita, namun apa daya kedua orang tuanya terus menjaga.
Akhirnya melalui sang kakak, Reza menitipkan pesan.
“Wahai Paramitaku, jika nanti kamu kembali, aku tak akan melepasmu lagi”
*Tulisan ini diikut sertakan dalam give away kasihelia.com : Gerakan Menulis #CintaiHidup
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

