Kepada Tuan yang dalam diam menyimpan makna,
Tahukah kamu, dahulu aku menyumpah-nyumpahimu?
Kepada Tuan yang dalam diam menyimpan makna,
Tahukah kamu, dahulu aku tak mengharap keberadaanmu?
Namun entah bagaimana,
Kita berada di satu titik.
Dan percikan-percikan ini penuhi rongga dada.
Entahlah denganmu bagaimana,
Kuharap pun hal yang sama.
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Selasa, 08 Desember 2015
Minggu, 14 September 2014
Untitled
Izinkan aku menanyakan ini : “Kapan terakhir kali
seseorang mengisi hatimu? Siapakah dia?”
Mungkin ini kalimat yang aneh untuk memulai suatu
tulisan. Baiklah… aku akan memulainya dari awal lagi.
“Manusia mana yang terakhir kali mengisi kekosongan
di hatimu?”
Tak perlu dijawab! Sungguh…. karena sejujurnya aku
bertanya pada diriku sendiri.
Untukku, terakhir kali itu ada pada saat aku
mengenyam bangku pendidikan tingkat atas. Siapa dia? Ah sebut saja dia Mawar
Hitam. Kenapa? Karena ‘sebut saja Mawar’ sudah telalu mainstream :)
Selasa, 06 Mei 2014
Bagaimana Kabarmu?
| source |
Lelakiku, bagaimana kabarmu hari ini? Aku disini baik, dan selalu setia menanti hadirnya dirimu.
Lelakiku, tahukah kamu bahwa aku masih menjaga cinta ini untuk kuberikan padamu? Ya, cinta ini selalu kujaga hingga kelak engkau datang untuk meraihnya.
Lelakiku, tahukah bahwa bibirku tak henti-hentinya bertanya pada Sang Pencipta perihal kedatanganmu? Pertanyaan yang acap kali kuulangi, namun hingga kini tiada jawab.
Lelakiku, tahukah kamu bahwa butir-butir kerinduan ini mulai menyeruak kalbu? Butir-butir kerinduan yang mencari keberadaan Tuannya
Lelakiku, hingga saat ini aku masih setia menanti hadirnya dirimu, tetapi entah sampai kapan aku bertahan menanti.
Lelakiku, segeralah kau temui aku agar rindu ini dapat menemui Tuannya.
Lelakiku, tahukah kamu bahwa aku masih menjaga cinta ini untuk kuberikan padamu? Ya, cinta ini selalu kujaga hingga kelak engkau datang untuk meraihnya.
Lelakiku, tahukah bahwa bibirku tak henti-hentinya bertanya pada Sang Pencipta perihal kedatanganmu? Pertanyaan yang acap kali kuulangi, namun hingga kini tiada jawab.
Lelakiku, tahukah kamu bahwa butir-butir kerinduan ini mulai menyeruak kalbu? Butir-butir kerinduan yang mencari keberadaan Tuannya
Lelakiku, hingga saat ini aku masih setia menanti hadirnya dirimu, tetapi entah sampai kapan aku bertahan menanti.
Lelakiku, segeralah kau temui aku agar rindu ini dapat menemui Tuannya.
5/6/2014
─perempuan yang dalam diamnya mendamba kehadiranmu─
Rabu, 26 Maret 2014
Transplantasi
Wajahku
mendekati wajahnya.
Jantungku
mulai berdetak cepat….
Tinggal
sedikit lagi, dan bibir kami pun akan bertemu.
Jantungku semakin berdebar
Tiba
tiba….
Aaaaaaaaaaaarrrrrrggggghhhhh……
rintihku seraya memegangi dada yang ntah mengapa sakit sekali ini.
“Kamu
kenapaaaaaa????” tanyanya histeris.
“Jan..tung..ku…”
jawabku terbata-bata, dan tiba-tiba semuanya gelap.
Jumat, 17 Januari 2014
Antara Lelaki dan Banci
Jani's POV
"Leviii, lo tau siapa cowok yang
diseberang sana?!" tanyaku seraya menatap lelaki di seberang jalan kami.
"Itu?" Levi menunjuk tanpa kentara
kearah lelaki itu. "Gak terlalu sih, setau gue namanya Geri"
"Yee kalo cuma itu sih gue juga tau"
ujarku mencibir.
"So?"
"Ya... info laen dong Lev"
"Gak tau, kenapa cyiiin? jangan bilang lo
suka?"
iya gue suka, kataku
dalam hati.
"Wait... wait... raut muka yey begichuuu,
lo suka ya? idih najong deh!"
"Kenapa Lev?"
"Dia tuh berandalan! gak cucok sama yey,
Jani!"
"Hmm gitu? iya deh" ujarku lirih.
"Udah jangan sedih gicuuu, mendingan kita
shopping. yuk ah cyin mareee"
Levi's POV
"Leviii lo tau siapa cowok yang diseberang
sana?!" tanya Jani seraya menatap lelaki di seberang jalan kami.
"Itu?" gue menunjuk tanpa kentara
kearah lelaki itu. "Gak terlalu sih, setau gue namanya Geri"
"Yee kalo cuma itu sih gue juga tau"
ujarku mencibir.
"So?"
"Ya... info laen dong Lev"
"Gak tau, kenapa cyiiin? jangan bilang lo
suka?"
Raut wajah Jani menunjukkan ia menyukai lelaki
itu. Ini tak boleh dibiarkan! Saatnya beraksi! HAHAHAHA
"Wait... wait... raut muka yey begichuuu,
lo suka ya? idih najong deh!"
"Kenapa Lev?"
"Dia tuh berandalan! gak cucok sama yey,
Jani!"
Yey cucoknya
sama gue, ujarku dalam hati.
"Hmm gitu? iya deh" ujar Jani lirih.
Aku tersenyum tanpa kentara.
"Udah jangan sedih gicuuu, mendingan kita
shopping. yuk ah cyin mareee"
Jumat, 03 Januari 2014
Aku Juga Suka Kamu, Tapi...
![]() |
| source |
Mutiara’s
POV
Bertemu dengannya adalah hal yang paling menyenangkan.
Ya, kalian tau rasanya mencintai bukan? Sangatlah indah. Seperti melihat bunga
yang bermekaran, atau saat air hujan turun di musim kemarau atau pula, bintang
yang jatuh saat ada satu permintaan. Yang jelas sangat menyenangkan.
Dia adalah Gabriel, sahabatku. Hmm… lebih tepatnya,
dia kakak kelasku yang menjadi sahabatku. Kepribadiannya itu cukup
menyenangkan. Ia ramah, baik dan sangat melindungiku. Dia juga bisa ku
andalkan. Dia selalu bisa membuatku tertawa disaat aku hampir menangis, atau
membuatku marah disaat aku sedang bosan. Tak jarang pula, ia sering membuatku
merasa menjadi seorang perempuan di hadapannya. Astagah! Lelaki itu menguras
isi fikiranku. Aku tidak tahu apa yang aku fikirkan.
“Hai Tia.” Sapanya pada pagi yang cerah. Aku pun tak
mau kalah oleh sang mentari, aku memberikannya senyum yang lebih cerah dari
mentari. Ia duduk disampingku dan mengambil segelas softdrink. Aku pun meminum jus jeruk kesukaanku.
“Nanti, pulang sekolah mau kemana?” Tanya Gabriel, aku
berfikir sesaat. Mencoba meyakinkan diriku, hari ini aku tidak punya janji
dengan siapapun. Setelah yakin, aku menggelengkan kepalaku dan menatapnya.
“Mau jalan?” aku sedikit tidak percaya, tapi… aku
sangat senang, biasanya kami hanya menghabiskan waktu disekolah. Dan akan
berpisah di rumah. Itu pun, jika dia mempunyai waktu untuk mengantarku. Ia
segera menganggukkan kepalaku dan tersenyum manis.
Jumat, 29 November 2013
LDR oh LDR
LDR. Long Distance Relationshitship. Hubungan jarak jauh.
Pasti sudah tak asing lagi ditelinga kalian. Dan itu pulalah yang
gue jalani selama setahun belakangan ini. Setahun yang lalu, tepat saat
anniversary kita, Nero –pacar gue– berangkat ke Canberra, Australia untuk melanjutkan
studinya. Sedangkan gue? gue cuma bisa nangis saat dia mulai memasuki ruang
check in di bandara.
Jumat, 22 November 2013
Inikah Kesetiaan Itu?
“Seratus tiga koma delapan, er-er -ge, Radionya Remaja
Gaul!!!” terdengar jingle radio gue dari speaker,
tanda waktu siaran gue tiba.
“Hello, everybody.
Ketemu lagi sama gue, Vanya. Di Love Story at er-er-ge, Radionya Remaja Gaul” gue memulai
siaran.
“Selama satu jam
ke depan, gue bakal ngebahas topik yang udah gak asing lagi nih di lingkungan
kita. Kesetiaan! Seperti biasa, bakal ada yang curhat juga. Dan sekarang kita
udah tersambung sama penelepon pertama. Halo?”
“Ya?” jawab
cewek di seberang sana.
“Kenalin dong
nama lo!” pinta gue.
“Hmmm kalian
bisa panggil gue, Citra”
“Oke Citra, bisa
dimulai cerita lo?”
“Yap”
Jumat, 09 Agustus 2013
Tulang Rusuk
Adam
menatap tanpa kentara ke arah gadis di seberang. Hawa. Berdiri disana sendiri,
masih sama seperti dulu. Pakaian itu, pakaian yang sama sewaktu Adam
meninggalkannya. Tawa berbalut lara? Hilang. Dan tidak... Ia tak lagi sendiri.
Terlihat seorang lelaki menggenggam tangannya mesra. Selamat Hawa! Tapi kaulah
tulang rusukku!
***
Jika
dirimulah, tulang rusukku
Kau
akan kembali, pada tubuh ini
Ku
akan tua dan mati, dalam pelukmu
Seluruh
nafas ini
***
"Saya
terima nikah dan kawinnya Hawa Anissa Binti Syarifullah, dengan mas kawin
tersebut, dibayar tunai!" ucap Adam dengan penuh keyakinan pada pagi hari
yang cerah di sepuluh tahun kemudian. Hawa tampak mempesona di sampingnya, dan
tak berhenti menitikkan air mata bahagia.
See?
Benarkan dia tulang rusukku?
Selasa, 06 Agustus 2013
Dear Lelaki Masa Depan
![]() |
| source |
Sisa kan tempat untukku di sisimu ya?
Kosongkan hatimu untuk cinta kita.
Lelaki masa depan,
Mulailah menanam benih benih cinta itu, agar aku hanya perlu memupuk dan merawatnya
Mulailah merangkai pasak-pasak masa depan, agar kita hanya harus membangunnya
Tahukah kau?
Aku masih menantimu
Hingga saatnya tiba
Entah sepuluh... dua puluh... bahkan lebih sekali pun
Aku akan tetap menanti.
Menanti saat-saat kau berlutut dihadapanku
Dan berkata "Maukah kau mendampingiku?"
Minggu, 28 Juli 2013
When a Boy Became a Man
Kalau laki-laki sudah pasti cowok, tapi kalau cowok belum pasti laki-laki
Kata-kata itu selalu terngiang dalam benak ku. Sebuah perkataan almarhum ibu kandung ku, bertahan-tahun yang lalu. Aku memegang teguh perkataan ibu dengan tidak pernah menjalin hubungan apa pun hingga saat ini di usia ku yang sudah menginjak 23 tahun. Karena yang aku tahu, cowok tak akan pernah mengajakku menjalin hubungan yang pasti.
Tapi saat ini aku dihadapkan pada suatu kenyataan yang sebenarnya aku sukai. Menikah. Siapa sih yang tak menginginkannya? Akan tetapi lelaki yang mau memperistriku itu bukanlah laki-laki, ia hanya seorang cowok. Usianya 5 tahun lebih muda dariku dan sudah pasti ini adalah perjodohan. Tepatnya perjodohan yang dilakukan oleh ibu tiriku -yang kini menjadi orang tuaku satu-satunya, semenjak ayah meninggal-
Jumat, 12 Juli 2013
Menghalalkan Kita #EdisiRamadhan
| Source |
"Maafkan saya, Dik. Saya tak bisa bohong, ya saya juga mencintai dirimu" jawabnya tanpa menatapku.
"Lalu?" tanyaku mulai jengkel.
"Saya mencintaimu, maka dari itu saya juga menghormatimu. Saya tak mungkin bersamamu tanpa kepastian. Terlalu berat untuk saya, Dik"
"Maksud, Mas?"
"Maafkan saya jika lancang, tetapi bolehkah saya bertemu ayahandamu, Dik?"
"Bertemu ayah? Untuk apa?"
"Menjadikan saya halal bagi dirimu dan dirimu halal bagi saya"
Senin, 29 April 2013
Cinta Harus Begini...
Aku bisa terima meski harus terluka
Karena ku terlalu mengenal hatimu
Aku telah merasa dari awal pertama
Kau takkan bisa lama berpaling darinya
Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah sekedar tuk sementara
Akhirnya kita harus memilih satu yang pasti
Mana mungkin terus jalani cinta begini
Karena cinta tak akan ingkari
Takkan terbagi
Kembalilah pada dirinya
Biar ku yang mengalah
Aku terima
Karena ku terlalu mengenal hatimu
Aku telah merasa dari awal pertama
Kau takkan bisa lama berpaling darinya
Ternyata hatiku benar
Cintamu hanyalah sekedar tuk sementara
Akhirnya kita harus memilih satu yang pasti
Mana mungkin terus jalani cinta begini
Karena cinta tak akan ingkari
Takkan terbagi
Kembalilah pada dirinya
Biar ku yang mengalah
Aku terima
Senin, 18 Maret 2013
Om 'Jelek' itu Ayahku
Makin kesini makin sadar, bakat gue bukan di artikel. So... sok atuh diliat cerpen gue setelah sekian lama hibernasi
~ Aletha’s POV ~
Ugh om jelek, kenapa dia terus bertemu kami sih?
“Bunda, can we go?
“Wait dear, we'll have lunch with Uncle Teddy, right?”
“Umm… yes, Bun”
“Hey Luna!” seru om itu seraya
memeluk bundaku. “And… Hi my little angel”
ia membungkuk dihadapanku dan mengecup pipi.
Ugh… siapa dia? Seenaknya saja mengecup pipiku. Dan apa katanya? My
little angel? You wish om!
Aku menatap om jelek dengan
nanar. Bunda menyenggol lenganku. Aku menatap bunda, seolah berkata umm-ya-ya-ya.
“Hai Om Teri… ups sorry… Om Teddy” aku menyungingkan
senyum lebar yang sama sekali tak ku ikhlaskan untuknya.
Om jelek malah tertawa. Aku benci melihatnyaaa!!
“Kalian mau pesan apa?” tanya om
jelek dengan sebuah senyum tersungging di bibir. Dan sayangnya aku malah
menemukan ketulusan didalam senyum itu. Ugh…
Aku memandangi gambar
dihadapanku. Daging berbumbu yang dipanggang diatas bara api. Namanya sulit
sekali, dengan perlahan aku berusaha melafalkannya. Tetapi kemudian tanpa
aba-aba dan dengan sangat cepat (bagiku), bunda memesan nasi goreng untuknya
dan… cream soup untukku! Ah tidak
adil! Aku ingin daging panggang itu bunda!!!
“Bunda…” rajukku manja.
“Yes, Dear?”
“Can I eat this?” tanyaku dengan wajah melas seraya menunjuk gambar
daging panggang itu.
“Hmm tapi bunda sudah memesankan cream soup untukmu, Letha” jawab bunda
tenang, namun aku tahu pasti ia takkan terbantahkan.
“Luna, aku mau pesan itu. Jadi
bagaimana kalau aku dan Letha bertukar makanan, kamu mau kan Letha?” tanya om
Teri ups salah… Om Teddy hihihi.
Bertukar dengan om Teri? Iyeuuuuh. Ah tapi aku ingin daging panggang
itu!!
“Umm aku mau” jawabku dingin.
“Tapi Ted…” sela bunda.
Oh come on, Bunda. Aku ingin daging panggang itu!!
“Nggak apa kok, Lun” kata om
Teddy seraya tersenyum. Kemudian ia memesankan daging panggang itu untukku. Ya!
untukku!! Yippieeee…
***
“Aku bersedia…” ujar bunda
dihadapan semua orang.
“Silahkan mengecup mempelaimu”
perintah seorang pendeta dihadapan mereka.
Ya... akhirnya bunda dan om Teddy menikah juga. Tante Tia menutupi mataku, tetapi
katanya Om Jelek –maksudku Om Teddy mengecup bibir bunda dengan mesra. Mesra?
Apa itu? Aku pun tak tahu. Ah sudahlah yang penting mereka saling mencintai. Ah
cinta kata apa lagi itu? Lagi-lagi aku tak tau artinya.
Tante Tia melepaskan tangannya.
Sekarang Bunda serta Om Teddy akan menuruni altar dan keluar dari gereja.
Inilah kesempatanku untuk memberikannya, pikirku.
Bunda dan Om Teddy mendekati
tempat aku dan Tante Tia berada. Kemudian aku menyelipkan sebuah amplop di
tangan Om Teddy.
“Terima kasih Letha” ujarnya
seraya memberikan sebentuk senyuman.
Mereka berjalan terus hingga
keluar dari gereja dan menaiki sebuah mobil sedan berwarna putih yang dihiasi
bunga mawar merah. Indah sekali pokoknya. Sepertinya itu juga akan menjadi
pilihanku nanti. Kata Tante Tia, mereka akan pergi berbulan madu. Apa
maksudnya? Kali ini Tante Tia menjawabnya. Katanya aku akan memiliki adik.
“Yeeeeeey!!! Letha mau punya
adiiiik!!”, teriakku lantang. Tante Tia sampai membekap mulutku. Semua pasang
mata menatap kearah kami. Kemudian salah satu dari mereka tertawa. Bagai
estafet mereka semua tertawa
Hahaha… Hahaha… Hahaha… begitu
bunyinya
***
Epilog
~ Author’s POV ~
Dear Om Jelek Ganteng (Kata
Tante Tia gak boleh bilang jelek lagi -_-),
![]() |
| source |
Kamu boleh jadi suami bundaku dan
tentunya… papa ah nggak! Nggak! Bagiku kamu tetap om Jelek Ganteng yang suka
kasih aku daging panggang hihihi.
Tapi… kata tante Tia, kamu sama
bundaku akan menghasilkan adik untukku ya? Ummm baiklah aku akan panggil kamu…
papa mungkin? Ah tidak! tidak! Papaku cuma satu, sekarang udah di surga.
Tante Tia ngusulin buat manggil kamu
ayah? Aku suka itu! Kamu suka gak? Suka gak suka harus itu! Yaudah aku panggil
kamu ayah.
Makasih Ayah mau terima bunda jadi
istri kamu, dan pastinya mau jadi ayahku.
Makasih Om Ganteng! Eh salah ding…
Ayah Ganteng!
Dan oh iya… kalau kalian udah pulang
dari bulan madu (emang ada ya nama tempat “bulan madu”? aneh!) kalian harus
bawain aku adik!
XXOO (kata tante Tia ini artinya
kecup-kecup-peluk-peluk)
Your Little Angel
Aletha
“Hahahaha” berakhirnya surat itu
maka meledaklah tawa Teddy.
“Why Dear?” tanya Luna.
Teddy menunjukkan surat di
tangannya.
“Astaga Tiaaaaaa!!!!”
Minggu, 12 Februari 2012
My First Date + Report Launching Kumcer Teenlit "Bukan Cupid"
Semua ini berawal dari di-invite-nya gue sama kak Lea ke acara Launching Kumcer Teenlit : Bukan Cupid via facebook.
Langsung gue wall dia dan bilang bakal dateng. Tapi gue baru sadar, kalo itu diadain di Gramedia Matraman -_- . Akhirnya gue kontak Dhilla, dan dia bilang bisa.
Tapi akhirnya setelah peristiwa kemaren, gue mutusin buat minta ditemenin sama dia ;)
Sekitar jam 9an kita berangkat, sepanjang jalan gue sms-an sama Dhilla. Dan katanya dia gak bisa dateng! KUYA!!!! Rese lo ah!!!, maki gue dalem hati. Gak mungkin kan gue ngomong gitu didepan dia? :p Tapi setelah gue paksa, dia dateng juga sih bentaran.
Rabu, 04 Januari 2012
♥ CINTA ♥
![]() |
| source |
Karena aku tak merasakannya
Karena aku tak melihatnya
Karena aku tak memahaminya
Tapi kini, aku percaya akan cinta
Karena kini aku tau
Bahwa cinta itu
Adalah kau
Setiap belaianmu, itu cinta
Setiap rangkulanmu, itu cinta
Setiap bisikanmu, itu cinta
Marahmu padaku, itu cinta
Nasihatmu padaku, itu cinta
I LOVE YOU!!!
Sabtu, 25 Juni 2011
Cinta 100 Hari
Dika dan Dilla. Bersahabat sejak kecil menjadikan mereka bagaikan surat dan perangko. Dimana ada Dika, disana pasti ada Dilla. Begitu pun sebaliknya, dimana ada Dilla, sudah bisa dipastikan disana juga ada Dika. Mereka selalu bersama, pergi bersama, sekolah di sekolah yang sama serta kelas yang sama. Sampai ketika kuliah pun mereka memilih universi...tas yang sama, pun begitu dengan jurusannya. Dan tanpa mereka sadari, sebenarnya mereka saling cinta. Hanya saja tak satu pun dari mereka berani mengungkapkannya.
Siang itu, seperti biasa mereka sedang mengobrol di taman gedung fakultas.
“Dilla, tau gak persamaan gue sama lo?”
“Taulah Dikaaaa….. lo sama gue kan udah sahabatan lama banget”
“Apaan?”
“Lo juga bisa jawab kali”
“Ya emang, tapi gue pengen tau dari sisi elo”
“Yaudah, nih ya gue kasih tau. Pasang telinga lebar-lebar, kalo perlu lo catet deh Dik”, sahut Dilla seraya tertawa.
“Pertama, umur. Kedua, hobi. Ketiga, sekolah sama kuliah. Keempat, sifat. Udah ah, kalo gue semuanya mah sehari juga gak bakal cukup Dik”
“Eh ada yang kurang tau, Dill”
“Apaan lagi?
“Sama-sama free”
“Maksud lo, Dik?”
“Ya free, gak ada pacar maksud gue”, jelas Dika
“Eits, enak aja. Itu mah elo kali Dik, kalo gue mah punya lagi….”, ujar Dilla membela dirinya.
“Siapa? Reno? Dia tau ada lo aja, belom tentu. Apalagi pacaran sama lo”
“Iiiih…jahat bener sih. Kan boleh aja ngarep”
“Eh Dill, gue boleh ngomong sesuatu gak?”
“Ya ngomong aja”
“Tapi lo jangan ngetawain gue yaa…”
“Iya, udah buruan deh kalo mau ngomong”
“Dilla, gue udah bosen nih jadi jomblo”
“Yeee… itu mah DL –derita lo,red.–. Hahahaha”, sahut Dilla seraya tertawa.
...
“Aaaaah… lo mah gitu, katanya gak bakal ketawa?” Dika pura-pura ngambek.
“Ya maaf deh. Yaudahlah lo cari cewek Dik. Jangan sama gue terus. Gampang kan?
“Ngomongnya sih gampang. Kenyataannya? Mana ada yang mau sama gue?”
“Aaaah jangan gitu dong. Masih ada kok yang mau sama lo, Dik”
“Siapa? Siapa?” tanya Dika dengan antusiasnya.
“ Mbok Jum! Hahahaha”
“Rese lo Dill. Gue kira beneran. Eh taunya pembantu lo”
“Dik, lama-lama gue juga kayaknya…”
“Dill, mau gak…”
“Lo dulu deh Dill”
“Lo aja”
“Ooooo tidak bisaaa. Ladies first”
“Yaudah. Jadi ya gitu deh, gue juga kayaknya udah bosen nih jadi jomblowati. Sekarang giliran lo, Dik”
“Hmmm… gimana ya? gue kok jadi bingung ngomongnya”
“Yailah, tinggal ngomong aja apa susahnya sih? Jadi lo mau ngomong apa nih?”
“Kita kan sama-sama jomblo nih. Sementara temen-temen yang lain udah pada punya
gandengan masing-masing”
"Terus kenapa?”, tanya Dilla
“Mau gak kalo kita, main drama romantis selama 100 hari ke depan?”
“Maksud lo, Dik?”
“Ya seolah-olah kita pacaran gitu. Just for fun aja, Dill”
“Hmmm… gimana ya? boleh juga sih. Tapi kan lo tau gue lagi ngincer Reno”
“Ya nanti kalo, lo sama Reno bener-bener jadian ya kita putus aja. Lagian lo kan juga tau kalo gue PDKT sama Lidya”
“Oh begitu ya? yaudah, gue mau deh. Tapi ada syaratnya”
“Apaan? Pasti gue turutin deh”
“Pertama, kita tetep pake lo-gue. Kedua, kalo lagi di kampus nggak ada panggilan dengan‘sayang’, ‘cinta’, sama sejenisnyalah. Ketiga, walaupun ini cuma just for fun, tapi lo harus perlakuin gue sebagaimana lo perlakuin pacar lo”
“Udah? Itu doang Dill?”
“Iya. Gampangkan?”
“Bukannya gampang lagi itu mah. Kalo cuma gitu doang sih kecil, Dilla. Gue kirain tuh syarat lo apa gitu, eh taunya beginian doang”
“Berarti mulai detik ini kita resmi jadian ya.”
“Iya dong Dill”
Dan akhirnya mereka pun resmi menjadi sepasang kekasih. Pada hari itu mereka berjanji bahwa hanya akan terjadi selama 100 hari saja. Sepulang kuliah mereka melakukan kencan pertama, layaknya sepasang kekasih. Setelahnya mereka tak langsung pulang, mereka menikmati bintang-bintang yang berkelap kelip, dan kini telah menjadi saksi cinta mereka berdua.
Hari ke-30
Tak terasa, sudah genap satu bulan hubungan itu terbina dengan indahnya. Cinta mereka semakin menyatu. Tetapi tak seorang pun diantara mereka yang tau bahwa sebenernya mereka saling cinta. Jalan berdua di malam minggu, mengerjakan tugas bersama, makan bersama adalah secuil dari kegiatan mereka. Mereka sepakat untuk merayakan hubungan ini dengan makan malam romantis di salah satu café ternama di Jakarta.
Malam itu, Dika menjemput Dilla di rumahnya. Lalu mereka pun segera pergi. Tak lupa sebelumnya Dika memperkenalkan diri kepada orang tua Dilla. Dilla memperkenalkan Dika sebagai kekasihnya. Alangkah senangnya hati Dika, tetapi sayangnya Dilla tak mengetahui itu.
Hari ke 60,
Dua bulan telah terlewati, mereka kembali merayakankannya. Perasaan mer...eka masih sama. Namun, belum ada diantara mereka yang berani mengungkapkannya.
Hari ke 90,
Bulan ketiga telah terlampaui, tetapi keadaan masih tetap sama. Perasaan kedua anak manusia yang sama dan ketidakberanian untuk mengungkapkan isi hati.
Hari ke-97
Hari itu mereka membolos bersama dan jalan-jalan di Mall seharian. Makan, nonton, dan keluar masuk toko demi memuaskan mata. Mereka menutup hari itu dengan menatap bintang-bintang di area parkir teratas seraya memflashback seluruh kebersamaan mereka selama sembilan puluh tujuh hari.
Hari ke-100
Tanpa mereka sadari, tekad mereka hari ini sama.
Hari ini gue harus nyatain perasaan gue ke Dilla, masa udah 100 hari pacaran tapinya dia gak tau perasaan gue, batin Dika berkata.
Gue harus kasih tau yang sebenarnya ke Dika, kali ini batin Dilla yang berkata.
Mereka merayakan hari ke 100 itu dengan pergi berdua ke Bogor.
“Dika, gue kesana sebentar ya… mau beli minum. Lo mau titip apa, Dik?”
“Sini biar gue aja yang beli, lo mau apa Dill?”
“Lo kan udah nyetir jauh, Dik. Lo pasti capek kan? Udah gapapa gue aja yang beli. Lo mau titip apa?”
“Yaudah terserah lo aja deh, gue titip Fruit Tea ya.”
“Oke”
“Hati-hati ya pas nyebrang, mobilnya pada kenceng-kenceng banget”
“Siplah, Say”
Dilla pun berjalan ke seberang jalan untuk membeli minuman. Namun, tepat ketika ia akan kembali ke tempat Dika berada, peristiwa itu terjadi. Sebuah mobil berkecepatan tinggi, menabrak tubuh Dilla. Kemudian tubuhnya terpental dan jatuh di ke jalanan. Mobil itu langsung menghilang secepat kilat. Dengan kesadaran yang... mulai melemah, sayup-sayup telinganya mendengar suara teriakan.
“TABRAK LARI WOY!!!! TABRAK LARI!!!
Dika tidak melihat peristiwa tragis itu. Tetapi ia mendengar suara teriakan tadi. Ia berbalik badan dan melihat kerumunan orang di tengah jalan raya. Segera ia berlari menerobos kerumunan itu. Dan menemukan bahwa korbannya adalah Dilla. Dengan segera dia melarikan Dilla ke rumah sakit terdekat. Namun semua telah terlambat ,dalam perjalanan menuju rumah sakit, Dilla menghembuskan nafas terakhirnya.
Keesokkan harinya, setelah jenazah Dilla dimakamkan, Dika membuka surat yang ia temukan di saku kemeja Dilla. Di amplopnya tertulis “To : Dika”
Seketika itu juga air matanya jatuh membasahi pipi. Gue juga cinta sama lo Dilla, kali ini bukan hanya dengan matanya saja ia menangis namun juga dengan hatinya.
Berbulan-bulan kemudian,
“Ayo say, cepetan katanya mau ke makam Dilla”, ajak Lydia
“Iya bentar, Lyd”
Beberapa bulan kemudian, akhirnya Dika berpacaran dengan gadis yang selalu dikejar-kejarnya, Lidya. Namun Dilla, tetap mendapat bagian di hatinya. Lidya mengetahuinya dan memaklumi itu, bahkan ia selalu menyempatkan diri untuk menemani Dika berziarah ke makam mantan kekasihya itu.
Nyatakanlah cintamu sesegera mungkin, jangan sampai kau menyesal di kemudian hari - vanka pramudita
Siang itu, seperti biasa mereka sedang mengobrol di taman gedung fakultas.
“Dilla, tau gak persamaan gue sama lo?”
“Taulah Dikaaaa….. lo sama gue kan udah sahabatan lama banget”
“Apaan?”
“Lo juga bisa jawab kali”
“Ya emang, tapi gue pengen tau dari sisi elo”
“Yaudah, nih ya gue kasih tau. Pasang telinga lebar-lebar, kalo perlu lo catet deh Dik”, sahut Dilla seraya tertawa.
“Pertama, umur. Kedua, hobi. Ketiga, sekolah sama kuliah. Keempat, sifat. Udah ah, kalo gue semuanya mah sehari juga gak bakal cukup Dik”
“Eh ada yang kurang tau, Dill”
“Apaan lagi?
“Sama-sama free”
“Maksud lo, Dik?”
“Ya free, gak ada pacar maksud gue”, jelas Dika
“Eits, enak aja. Itu mah elo kali Dik, kalo gue mah punya lagi….”, ujar Dilla membela dirinya.
“Siapa? Reno? Dia tau ada lo aja, belom tentu. Apalagi pacaran sama lo”
“Iiiih…jahat bener sih. Kan boleh aja ngarep”
“Eh Dill, gue boleh ngomong sesuatu gak?”
“Ya ngomong aja”
“Tapi lo jangan ngetawain gue yaa…”
“Iya, udah buruan deh kalo mau ngomong”
“Dilla, gue udah bosen nih jadi jomblo”
“Yeee… itu mah DL –derita lo,red.–. Hahahaha”, sahut Dilla seraya tertawa.
...
“Aaaaah… lo mah gitu, katanya gak bakal ketawa?” Dika pura-pura ngambek.
“Ya maaf deh. Yaudahlah lo cari cewek Dik. Jangan sama gue terus. Gampang kan?
“Ngomongnya sih gampang. Kenyataannya? Mana ada yang mau sama gue?”
“Aaaah jangan gitu dong. Masih ada kok yang mau sama lo, Dik”
“Siapa? Siapa?” tanya Dika dengan antusiasnya.
“ Mbok Jum! Hahahaha”
“Rese lo Dill. Gue kira beneran. Eh taunya pembantu lo”
“Dik, lama-lama gue juga kayaknya…”
“Dill, mau gak…”
“Lo dulu deh Dill”
“Lo aja”
“Ooooo tidak bisaaa. Ladies first”
“Yaudah. Jadi ya gitu deh, gue juga kayaknya udah bosen nih jadi jomblowati. Sekarang giliran lo, Dik”
“Hmmm… gimana ya? gue kok jadi bingung ngomongnya”
“Yailah, tinggal ngomong aja apa susahnya sih? Jadi lo mau ngomong apa nih?”
“Kita kan sama-sama jomblo nih. Sementara temen-temen yang lain udah pada punya
gandengan masing-masing”
"Terus kenapa?”, tanya Dilla
“Mau gak kalo kita, main drama romantis selama 100 hari ke depan?”
“Maksud lo, Dik?”
“Ya seolah-olah kita pacaran gitu. Just for fun aja, Dill”
“Hmmm… gimana ya? boleh juga sih. Tapi kan lo tau gue lagi ngincer Reno”
“Ya nanti kalo, lo sama Reno bener-bener jadian ya kita putus aja. Lagian lo kan juga tau kalo gue PDKT sama Lidya”
“Oh begitu ya? yaudah, gue mau deh. Tapi ada syaratnya”
“Apaan? Pasti gue turutin deh”
“Pertama, kita tetep pake lo-gue. Kedua, kalo lagi di kampus nggak ada panggilan dengan‘sayang’, ‘cinta’, sama sejenisnyalah. Ketiga, walaupun ini cuma just for fun, tapi lo harus perlakuin gue sebagaimana lo perlakuin pacar lo”
“Udah? Itu doang Dill?”
“Iya. Gampangkan?”
“Bukannya gampang lagi itu mah. Kalo cuma gitu doang sih kecil, Dilla. Gue kirain tuh syarat lo apa gitu, eh taunya beginian doang”
“Berarti mulai detik ini kita resmi jadian ya.”
“Iya dong Dill”
Dan akhirnya mereka pun resmi menjadi sepasang kekasih. Pada hari itu mereka berjanji bahwa hanya akan terjadi selama 100 hari saja. Sepulang kuliah mereka melakukan kencan pertama, layaknya sepasang kekasih. Setelahnya mereka tak langsung pulang, mereka menikmati bintang-bintang yang berkelap kelip, dan kini telah menjadi saksi cinta mereka berdua.
Hari ke-30
Tak terasa, sudah genap satu bulan hubungan itu terbina dengan indahnya. Cinta mereka semakin menyatu. Tetapi tak seorang pun diantara mereka yang tau bahwa sebenernya mereka saling cinta. Jalan berdua di malam minggu, mengerjakan tugas bersama, makan bersama adalah secuil dari kegiatan mereka. Mereka sepakat untuk merayakan hubungan ini dengan makan malam romantis di salah satu café ternama di Jakarta.
Malam itu, Dika menjemput Dilla di rumahnya. Lalu mereka pun segera pergi. Tak lupa sebelumnya Dika memperkenalkan diri kepada orang tua Dilla. Dilla memperkenalkan Dika sebagai kekasihnya. Alangkah senangnya hati Dika, tetapi sayangnya Dilla tak mengetahui itu.
Hari ke 60,
Dua bulan telah terlewati, mereka kembali merayakankannya. Perasaan mer...eka masih sama. Namun, belum ada diantara mereka yang berani mengungkapkannya.
Hari ke 90,
Bulan ketiga telah terlampaui, tetapi keadaan masih tetap sama. Perasaan kedua anak manusia yang sama dan ketidakberanian untuk mengungkapkan isi hati.
Hari ke-97
Hari itu mereka membolos bersama dan jalan-jalan di Mall seharian. Makan, nonton, dan keluar masuk toko demi memuaskan mata. Mereka menutup hari itu dengan menatap bintang-bintang di area parkir teratas seraya memflashback seluruh kebersamaan mereka selama sembilan puluh tujuh hari.
Hari ke-100
Tanpa mereka sadari, tekad mereka hari ini sama.
Hari ini gue harus nyatain perasaan gue ke Dilla, masa udah 100 hari pacaran tapinya dia gak tau perasaan gue, batin Dika berkata.
Gue harus kasih tau yang sebenarnya ke Dika, kali ini batin Dilla yang berkata.
Mereka merayakan hari ke 100 itu dengan pergi berdua ke Bogor.
“Dika, gue kesana sebentar ya… mau beli minum. Lo mau titip apa, Dik?”
“Sini biar gue aja yang beli, lo mau apa Dill?”
“Lo kan udah nyetir jauh, Dik. Lo pasti capek kan? Udah gapapa gue aja yang beli. Lo mau titip apa?”
“Yaudah terserah lo aja deh, gue titip Fruit Tea ya.”
“Oke”
“Hati-hati ya pas nyebrang, mobilnya pada kenceng-kenceng banget”
“Siplah, Say”
Dilla pun berjalan ke seberang jalan untuk membeli minuman. Namun, tepat ketika ia akan kembali ke tempat Dika berada, peristiwa itu terjadi. Sebuah mobil berkecepatan tinggi, menabrak tubuh Dilla. Kemudian tubuhnya terpental dan jatuh di ke jalanan. Mobil itu langsung menghilang secepat kilat. Dengan kesadaran yang... mulai melemah, sayup-sayup telinganya mendengar suara teriakan.
“TABRAK LARI WOY!!!! TABRAK LARI!!!
Dika tidak melihat peristiwa tragis itu. Tetapi ia mendengar suara teriakan tadi. Ia berbalik badan dan melihat kerumunan orang di tengah jalan raya. Segera ia berlari menerobos kerumunan itu. Dan menemukan bahwa korbannya adalah Dilla. Dengan segera dia melarikan Dilla ke rumah sakit terdekat. Namun semua telah terlambat ,dalam perjalanan menuju rumah sakit, Dilla menghembuskan nafas terakhirnya.
Keesokkan harinya, setelah jenazah Dilla dimakamkan, Dika membuka surat yang ia temukan di saku kemeja Dilla. Di amplopnya tertulis “To : Dika”
Dear Dika,
Hari ini adalah hari ke 100 kita menjalin hubungan ini. Banyak hal-hal indah yang gue alami selama bersama lo, Dik. Yang kalo gue sebutin satu-satu, bisa-bisa lo baca surat ini sampe berhari-hari.
Dika,
Gue gak tau harus mulai ngomong darimana, mungkin ini aneh atau gimana gitu. Tapi jujur gue seneng banget bisa ada hubungan sama lo, walaupun pacaran kita ini cuma permainan semata.
Sekali lagi gue seneng banget karena bisa melalui 100 hari ini sama lo. Karena gue sebenernya itu sayang sama lo. Tapi sayangnya bukan sebatas teman. Bisa di bilang gue CINTA sama lo, Dika. Ini sebenernya udah gue rasain lama banget. Tapi gue nggak ada keberanian buat ngungkapinnya.
Seketika itu juga air matanya jatuh membasahi pipi. Gue juga cinta sama lo Dilla, kali ini bukan hanya dengan matanya saja ia menangis namun juga dengan hatinya.
Berbulan-bulan kemudian,
“Ayo say, cepetan katanya mau ke makam Dilla”, ajak Lydia
“Iya bentar, Lyd”
Beberapa bulan kemudian, akhirnya Dika berpacaran dengan gadis yang selalu dikejar-kejarnya, Lidya. Namun Dilla, tetap mendapat bagian di hatinya. Lidya mengetahuinya dan memaklumi itu, bahkan ia selalu menyempatkan diri untuk menemani Dika berziarah ke makam mantan kekasihya itu.
Nyatakanlah cintamu sesegera mungkin, jangan sampai kau menyesal di kemudian hari - vanka pramudita
Pengorbanan Demi Kebahagiaan
Ada seorang gadis bernama Nadine. Ia sangat menyukai salah seorang kakak kelasnya, yaitu Tristan dan berharap dapat menjadi kekasihnya. Akan tetapi karena ia tidak mungkin menyatakan langsung perasaannya kepada Tristan, ia hanya memendamnya dan terus berharap.
Hingga pada suatu ketika, Tristan pun mengajak Nadine mengobrol untuk pe...rtama kalinya. Hati Nadine pun berbunga-bunga. Dan sejak saat itu pun mereka menjadi dekat.
Ternyata, apa yang Nadine harapkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Tristan mendekati Nadine hanya untuk mencari informasi tentang Sarah, sahabatnya Nadine. Karena sebetulnya Tristan menyukai Sarah, begitu pun sebaliknya.
Akhirnya dengan segenap kesabaran dan keikhlasannya, Nadine pun mencomblangi Tristan dan Sarah. Hingga akhirnya mereka berdua pun berpacaran. Setiap hari Nadine melihat mereka berdua bermesraan dan lain sebagainya. Karena tidak tahan melihat kedekatan mereka berdua, Nadine pun memutuskan untuk pindah sekolah.
Beruntung, ayah Nadine ditugaskan untuk dinas di Bandung selama 2 tahun. Akhirnya Nadine beserta keluarganya pindah ke Bandung. Dan Nadine pun bersekolah disana.
2 Tahun kemudian….
Masa dinas ayah Nadine telah habis. Dan mereka semua harus kembali ke Jakarta. Tetapi, Nadine baru saja diterima di ITB. Dan akhirnya ia memutuskan untuk tetap di Bandung dan mengekost disana. 2 tahun kemudian Nadine pun lulus. Dan karena semasa kuliah Nadine sudah memiliki bisnis kecil, Nadine tidak kembali ke Jakarta. Tetapi meneruskan bisnis tersebut.
Setahun kemudian…
Nadine telah memiliki kekasih, ia bernama Alex dan beberapa bulan kemudian mereka pun menikah. Sebulan kemudian, tepatnya ketika usia perkawinan mereka tepat 1 bulan, Nadine pun hamil. Dan 9 bulan kemudian, anak Nadine pun lahir. Anak itu diberi nama Nadira.
3 Bulan kemudian…
Nadine mendapat kabar bahwa Tristan dan Sarah satu minggu lagi akan menikah, dan Nadine diminta untuk menjadi saksi dalam pernikahan tersebut. Akhirnya 2 hari sebelum pernikahan Tristan dan Sarah berlangsung, Nadine beserta anak dan suaminya berangkat ke Jakarta.
Hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Pukul 8 pagi, Nadine sudah bersiap di rumah Sarah. Dan pada pukul 10 pun, acara pernikahan itu dimulai. Nadine menjadi saksi dalam pernikahan tersebut.
Beberapa hari kemudian, Nadine beserta keluarga kecilnya itu pun kembali ke Bandung. Dan kembali pada aktifitas mereka masing-masing.
1 tahun kemudian…
Sarah mengabari Nadine bahwa ia telah memiliki seorang anak dan juga mengundang Nadine serta keluarganya untuk menghadiri pesta ulang tahun pernikahannya yang pertama. Mereka pun bersiap siap dan pada keesokkan harinya berangkat ke Jakarta. Dan Alex memutuskan agar mereka semua tinggal di Jakarta dan bisnisnya di Bandung diurus oleh adiknya.
Mereka pun menghadiri acara ulang tahun pernikahan itu. Dan akhirnya Nadine dan Sarah beserta keluarga menjadi sangat dekat.
Epilog
Akhirnya, mereka semua menjadi sangat dekat. Bahkan Tristan dan Alex yang tadinya tidak saling mengenal menjadi seperti saudara. Begitu pun anak anak mereka, Nadira dan Shavira (anak dari Tristan dan Sarah) mereka bagai surat dan perangko saja.
Dan upaya serta pengorbanan Nadine untuk menyatukan Tristan dan Sarah semasa SMA pun tidak sia sia. Karena kini mereka hidup bahagia. Begitu pun dirinya dan Alex.
By :
Vanka
15/6/2010
Hingga pada suatu ketika, Tristan pun mengajak Nadine mengobrol untuk pe...rtama kalinya. Hati Nadine pun berbunga-bunga. Dan sejak saat itu pun mereka menjadi dekat.
Ternyata, apa yang Nadine harapkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Tristan mendekati Nadine hanya untuk mencari informasi tentang Sarah, sahabatnya Nadine. Karena sebetulnya Tristan menyukai Sarah, begitu pun sebaliknya.
Akhirnya dengan segenap kesabaran dan keikhlasannya, Nadine pun mencomblangi Tristan dan Sarah. Hingga akhirnya mereka berdua pun berpacaran. Setiap hari Nadine melihat mereka berdua bermesraan dan lain sebagainya. Karena tidak tahan melihat kedekatan mereka berdua, Nadine pun memutuskan untuk pindah sekolah.
Beruntung, ayah Nadine ditugaskan untuk dinas di Bandung selama 2 tahun. Akhirnya Nadine beserta keluarganya pindah ke Bandung. Dan Nadine pun bersekolah disana.
2 Tahun kemudian….
Masa dinas ayah Nadine telah habis. Dan mereka semua harus kembali ke Jakarta. Tetapi, Nadine baru saja diterima di ITB. Dan akhirnya ia memutuskan untuk tetap di Bandung dan mengekost disana. 2 tahun kemudian Nadine pun lulus. Dan karena semasa kuliah Nadine sudah memiliki bisnis kecil, Nadine tidak kembali ke Jakarta. Tetapi meneruskan bisnis tersebut.
Setahun kemudian…
Nadine telah memiliki kekasih, ia bernama Alex dan beberapa bulan kemudian mereka pun menikah. Sebulan kemudian, tepatnya ketika usia perkawinan mereka tepat 1 bulan, Nadine pun hamil. Dan 9 bulan kemudian, anak Nadine pun lahir. Anak itu diberi nama Nadira.
3 Bulan kemudian…
Nadine mendapat kabar bahwa Tristan dan Sarah satu minggu lagi akan menikah, dan Nadine diminta untuk menjadi saksi dalam pernikahan tersebut. Akhirnya 2 hari sebelum pernikahan Tristan dan Sarah berlangsung, Nadine beserta anak dan suaminya berangkat ke Jakarta.
Hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Pukul 8 pagi, Nadine sudah bersiap di rumah Sarah. Dan pada pukul 10 pun, acara pernikahan itu dimulai. Nadine menjadi saksi dalam pernikahan tersebut.
Beberapa hari kemudian, Nadine beserta keluarga kecilnya itu pun kembali ke Bandung. Dan kembali pada aktifitas mereka masing-masing.
1 tahun kemudian…
Sarah mengabari Nadine bahwa ia telah memiliki seorang anak dan juga mengundang Nadine serta keluarganya untuk menghadiri pesta ulang tahun pernikahannya yang pertama. Mereka pun bersiap siap dan pada keesokkan harinya berangkat ke Jakarta. Dan Alex memutuskan agar mereka semua tinggal di Jakarta dan bisnisnya di Bandung diurus oleh adiknya.
Mereka pun menghadiri acara ulang tahun pernikahan itu. Dan akhirnya Nadine dan Sarah beserta keluarga menjadi sangat dekat.
Epilog
Akhirnya, mereka semua menjadi sangat dekat. Bahkan Tristan dan Alex yang tadinya tidak saling mengenal menjadi seperti saudara. Begitu pun anak anak mereka, Nadira dan Shavira (anak dari Tristan dan Sarah) mereka bagai surat dan perangko saja.
Dan upaya serta pengorbanan Nadine untuk menyatukan Tristan dan Sarah semasa SMA pun tidak sia sia. Karena kini mereka hidup bahagia. Begitu pun dirinya dan Alex.
By :
Vanka
15/6/2010
Selasa, 14 Juni 2011
Sabtu, 13 Februari 2010
Hidangan Romantis Serba Stroberi
VALENTINE identik dengan benda-benda tertentu. Boneka, bunga, cokelat selalu masuk dalam bahasan media ketika memasuki bulan Februari. Tapi banyak lho yang ingin mendapatkan sesuatu yang berbeda saat Valentine. Terutama pada waktu makan bersama kekasih atau pun orang-orang tercinta. Mungkinkah? Ya, kalau Anda mau sedikit usaha. Kita bisa memberi tema yang spesifik. Stroberi bisa dijadikan bahan dasar olahan karena bentuk, warna, dan rasanya yang khas. Sehingga kalau dihubung-hubungkan dengan Hari Kasih Sayang, kesan yang ingin dihadirkan muncul dengan kuat. Simak beberapa resep dengan olahan stroberi berikut.
"PUDING ROTI KISMIS STRAWBERRY "
BAHAN:
- 4 lembar roti tawar, sobek-sobek
- 100 gr kismis
- 2 butir telur
- 50 gr gula pasir
- 100 ml susu cair
- 100 ml krim kental
- 2 sendok makan mentega, lelehkan
- 100 gr selai aprikot untuk olesan
SAUS STROBERI:
- 100 gr selai stroberi
- 100 ml air
- 100 gr stroberi segar, cincang halus
- 1 sendok teh maizena, larutkan dengan 2 sendok makan air
CARA MEMBUAT:
1. Saus: Campur selai stroberi dan air, masak hingga mendidih, masukkan potongan stroberi, aduk rata. Tuang larutan maizena, masak hingga mengental. Angkat dan sisihkan.
2. Siapkan mangkuk tahan panas, olesi dengan mentega.
3. Kocok telur dan gula pasir dengan ballon whisk hingga gula larut.
4. Tuang susu cair dan krim kental, tambahkan mentega cair, aduk hingga rata.
5. Masukkan potongan roti dan kismis, aduk rata.
6. Tuang adonan ke dalam mangkuk lalu panggang dalam oven dengan suhu 180º C selama 30 menit hingga matang. Angkat.
7. Oles dengan selai aprikot. Sajikan dengan saus stroberi.
"LONG PASTRY STRAWBERRY"
BAHAN:
- 500 gr tepung terigu protein tinggi
- 1 sendok teh garam
- 100 gr gula pasir
- 11 gr ragi instan
- 1 butir telur, kocok lepas
- 175 ml air es
- 50 gr margarin
- 200 gr korsvet/pastry margarin
- 100 gr selai aprikot
ISI (Kocok Lembut):
- 200 gr vla vanila siap pakai
- 400 ml susu cair dingin
TOPPING:
- 100 gr cokelat masak pink, lelehkan
- 100 gr red currant
- 100 gr stroberi, potong-potong
CARA MEMBUAT:
1. Aduk tepung terigu, garam, gula pasir, ragi, dan telur. Tuang air es, aduk hingga rata.
2. Tambahkan margarin, uleni hingga kalis. Bulatkan lalu diamkan selama selama 30 menit.
3. Bagi korsvet menjadi tiga. Kempiskan adonan lalu giling memanjang, oleskan bagian atasnya dengan korsvet pertama, lalu lipat. Simpan dalam lemari es selama 10 menit.
4. Keluarkan adonan lalu giling kembali, oles dengan korsvet, lipat kembali. Simpan dalam lemari es selama 10 menit. Lakukan hal yang sama sekali lagi.
5. Keluarkan adonan, giling hingga ketebalan 1/2 cm lalu lipat menjadi tiga. Potong dengan ketebalan 1 cm, balikkan adonan lalu susun di atas loyang beroles margarin, diamkan selama 30 menit.
6. Panggang selama 15 menit atau hingga matang. Angkat lalu oles dengan selai aprikot.
7. Belah pastry lalu semprotkan vla, tutup kembali. Hias dengan cokelat pink, stroberi, dan red currant.
"STRAWBERRY MOUSSE PUDING"BAHAN:
- 1 bungkus agar-agar merah
- 100 gr gula pasir
- 600 ml susu cair
- 100 gr selai stroberi
- 100 gr krim kental
- 200 ml air es
- 200 gr stroberi, potong-potong
CARA MEMBUAT:
1. Siapkan cetakan bentuk hati, sisihkan.
2. Kocok krim kental dengan air dingin hingga kaku, simpan dalam lemari es.
3. Rebus agar-agar, gula pasir, susu cair, dan selai hingga mendidih sambil terus diaduk. Angkat.
4. Tuang agar-agar ke dalam kocokan krim kental, aduk rata. Tambahkan potongan stroberi, aduk rata.
5. Tuang adonan ke dalam loyang, diamkan hingga mengeras.
"PUDING ROTI KISMIS STRAWBERRY "
BAHAN:
- 4 lembar roti tawar, sobek-sobek
- 100 gr kismis
- 2 butir telur
- 50 gr gula pasir
- 100 ml susu cair
- 100 ml krim kental
- 2 sendok makan mentega, lelehkan
- 100 gr selai aprikot untuk olesan
SAUS STROBERI:
- 100 gr selai stroberi
- 100 ml air
- 100 gr stroberi segar, cincang halus
- 1 sendok teh maizena, larutkan dengan 2 sendok makan air
CARA MEMBUAT:
1. Saus: Campur selai stroberi dan air, masak hingga mendidih, masukkan potongan stroberi, aduk rata. Tuang larutan maizena, masak hingga mengental. Angkat dan sisihkan.
2. Siapkan mangkuk tahan panas, olesi dengan mentega.
3. Kocok telur dan gula pasir dengan ballon whisk hingga gula larut.
4. Tuang susu cair dan krim kental, tambahkan mentega cair, aduk hingga rata.
5. Masukkan potongan roti dan kismis, aduk rata.
6. Tuang adonan ke dalam mangkuk lalu panggang dalam oven dengan suhu 180º C selama 30 menit hingga matang. Angkat.
7. Oles dengan selai aprikot. Sajikan dengan saus stroberi.
"LONG PASTRY STRAWBERRY"
BAHAN:
- 500 gr tepung terigu protein tinggi
- 1 sendok teh garam
- 100 gr gula pasir
- 11 gr ragi instan
- 1 butir telur, kocok lepas
- 175 ml air es
- 50 gr margarin
- 200 gr korsvet/pastry margarin
- 100 gr selai aprikot
ISI (Kocok Lembut):
- 200 gr vla vanila siap pakai
- 400 ml susu cair dingin
TOPPING:
- 100 gr cokelat masak pink, lelehkan
- 100 gr red currant
- 100 gr stroberi, potong-potong
CARA MEMBUAT:
1. Aduk tepung terigu, garam, gula pasir, ragi, dan telur. Tuang air es, aduk hingga rata.
2. Tambahkan margarin, uleni hingga kalis. Bulatkan lalu diamkan selama selama 30 menit.
3. Bagi korsvet menjadi tiga. Kempiskan adonan lalu giling memanjang, oleskan bagian atasnya dengan korsvet pertama, lalu lipat. Simpan dalam lemari es selama 10 menit.
4. Keluarkan adonan lalu giling kembali, oles dengan korsvet, lipat kembali. Simpan dalam lemari es selama 10 menit. Lakukan hal yang sama sekali lagi.
5. Keluarkan adonan, giling hingga ketebalan 1/2 cm lalu lipat menjadi tiga. Potong dengan ketebalan 1 cm, balikkan adonan lalu susun di atas loyang beroles margarin, diamkan selama 30 menit.
6. Panggang selama 15 menit atau hingga matang. Angkat lalu oles dengan selai aprikot.
7. Belah pastry lalu semprotkan vla, tutup kembali. Hias dengan cokelat pink, stroberi, dan red currant.
"STRAWBERRY MOUSSE PUDING"BAHAN:
- 1 bungkus agar-agar merah
- 100 gr gula pasir
- 600 ml susu cair
- 100 gr selai stroberi
- 100 gr krim kental
- 200 ml air es
- 200 gr stroberi, potong-potong
CARA MEMBUAT:
1. Siapkan cetakan bentuk hati, sisihkan.
2. Kocok krim kental dengan air dingin hingga kaku, simpan dalam lemari es.
3. Rebus agar-agar, gula pasir, susu cair, dan selai hingga mendidih sambil terus diaduk. Angkat.
4. Tuang agar-agar ke dalam kocokan krim kental, aduk rata. Tambahkan potongan stroberi, aduk rata.
5. Tuang adonan ke dalam loyang, diamkan hingga mengeras.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





