Who's Following Me?

Senin, 19 Oktober 2020

Wastra

Tubuhnya memang tidak sekuat dulu, tapi setiap hari ia masih mengolah sawah milik tetangganya. Keriput pun telah menghiasi sebagian besar wajahnya. Kulitnya juga tidak lagi sebersih saat ia masih remaja, akibat sering terpapar matahari ketika bertani. Tapi semua orang tahu bahwa pada masanya, ia adalah seorang kembang desa. 

Dua hari yang lalu, ia mengutarakan keinginan agar semua anak-cucunya datang. "Ingin membagikan apapun yang Simbok punya", katanya pada Ratih. Si cucu tertua yang memilih untuk menemani neneknya, menggantikan sang ibu yang harus merantau ke Negeri Seberang. Dengan cekatan Ratih pun menghubungi satu demi satu anggota keluarganya. 

Sabtu, 17 Oktober 2020

Dewangga

Amarahku semakin menjadi, ketika melihat lelaki itu kembali. Bukan apa-apa, dalam sepekan terakhir sudah lima kali ia pulang tanpa sepeser uang. Sudah pasti penyebabnya adalah makhluk menyebalkan yang bulan lalu dibawanya ke rumah kami. Selain menyita keuangan kami, makhluk itu juga membuatku merasa diselingkuhi. Lihat saja sekarang, alih-alih menyejukkan hatiku yang panas, ia malah memanjakan makhluk menyebalkan itu.

Hari ini, ia sudah bersiap-siap sedari pagi. "Ada pekerjaan", jelasnya tanpa kutanya. Tidak hanya dirinya sendiri, ia juga mempersiapkan makhluk itu. "Hah! Bekerja apanya, bekerja kok membawa hewan", pikirku merasa dibohongi olehnya. Tanpa sepatah kata lagi, ia pun pergi bersama makhluk itu. Tapi anehnya ia sempat memelukku cukup lama.

Kamis, 15 Oktober 2020

Senandika

Rasanya tidak ada yang dapat menandingi kecantikanku! Lihatlah! Tubuhku yang ranum, berlekuk-lekuk bagai gitar Spanyol. Dan kemari, rasakan harumku yang menguar kesana kemari. Belum lagi mulusnya kulitku yang membuat semut sekalipun tergelincir. Atau orang-orang yang terjerembab, hanya karena terpaku kepadaku.

Tapi tunggu, benda apakah ini yang sedang menempel di tubuhku? Ah... kau merusak pemadangan saja! Astaga... mengapa ia melukaiku? Apa salahku, kawan? Mengapa kau menyayat-nyayat tubuhku? Dimana rasa kemanusiaanmu? Kau menatapku dengan ganas, sembari terus menguliti tubuhku. Sedikit demi sedikit bagian tubuhku meluncur melewati kerongkonganmu.

Alamak... aku baru ingat, kalau aku hanya sebuah mangga Harumanis.

#Writober2020
#RBMIPJakarta
#Senandika