Who's Following Me?

Kamis, 10 Oktober 2019

GARIS


Sejak awal, kehidupan pernikahan Namira dan Bagas baik - baik saja. Selayaknya pasangan muda, sesekali mereka memang bertengkar. Namun, akan dengan mudah untuk berbaikan kembali. 

Hingga akhir - akhir ini, pertanyaan yang tak mengenakkan itu mulai terdengar. Awalnya hanya dari kedua orang tua, tapi lambat laun keluarga besar mereka pun juga bertanya.

"Sudah tiga tahun menikah, masih belum hamil juga?"
"Kalian nggak mau kasih kami cucu?"
"Mira coba berhenti kerja sana... supaya bisa fokus program hamil!"

Namira dan Bagas bukannya tidak mencoba segala cara. Mereka pun sudah kesana kemari menemui beragam ginekolog. Semua berkata sama, kondisi keduanya sehat namun memang belum diberikan kesempatan saja.

Tak hanya itu, berbagai macam hal yang masih dianggap mitos pun mereka lakukan. Banyak - banyak mengkonsumsi tauge. Tidak memakan daging merah. Semua sudah mereka lakukan. Bahkan secara rutin, Namira memastikan bahwa saat mereka berhubungan, ia sedang dalam masa subur.

"Mas, kemarin Mama bilang kalau memang aku tidak bisa, Mama mau carikan perempuan lain untukmu", ujar Namira suatu malam.

"Bicara apa sih kamu, Mir. Tidaklah... kamu tahu aku bukan lelaki seperti itu"

"Aku takut mengecewakanmu, Mas", Namira mulai terisak.

Bagas meraih Namira ke dalam pelukannya, "Ssstt, sudah... sudah... kamu ingat kan janji kita tiga tahun yang lalu?"

"Tapi, Mas...", dengan ragu pikiran Namira melayang ke hari pernikahan mereka, saat sebuah janji setia mereka ucapkan di hadapan keluarga dan juga Tuhan.

"Kita coba lagi ya, Mir", bisik Bagas seraya membelai rambut Namira. Suaranya pelan namun sarat makna. Menggoda bibir Namira untuk langsung menyerbu tubuh Bagas.

Malam itu, ntah berapa kali mereka mempersatukan tubuh. Tekad mereka sama, menghadirkan satu lagi manusia di bumi ini. Hingga kemudian pada suatu pagi, Namira terbangun dengan kondisi lemas. Akibat semalaman memuntahkan isi perutnya. 

Tanpa sadar, ia meraih sebuah benda yang selama ini dibencinya. Dengan seksama Namira menggunakan benda tersebut, kemudian ia menunggu. Semenit. Dua menit. Namun terasa seperti dua abad.

Sebuah garis mulai terlihat di atas benda menyebalkan itu. "Cepatlaaah...", rutuk Namira tidak sabar. Sepersekian detik, ia terlonjak bahagia seraya memanggil Bagas.

"Mas... dua garis!!", seru Namira begitu melihat kehadiran Bagas di sisinya.

"Maksudnya?", tanya Bagas. Masih belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

"Ini... dua garis, Mas", Namira mengangsurkan benda yang dulu paling dibencinya itu.

"Kamu... hamil?" 

#Writober
#RBMIpJakarta
#Ibuprofesionaljakarta

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih untuk yang sudah membaca atau sekedar melihat tulisan ini.

Mari budayakan memberi apresiasi pada penulis dengan berupa sebuah komentar :)